KEMACETAN DI KOTA MAKASSAR

Oleh Narsi Datu

Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar termasuk di Makassar. kemacetan dapat terjadi karena arus yang melewati jalan telah melampaui kapasitas jalan,adanya pemakai jalan yang tidak tahu aturan lalu lintas, adanya parkir liar, dan banyak lagi.

Kota Makassar kini sudah menjadi kota metropolitan yang cukup padat. Tak heran,jika kita bepergian mengelilingi kota Makassar maka akan menemui beberapa titik macet. Adapun titik-titik kemacetan di kota Makassar:

JALAN SULTAN ALAUDDIN

Jalan yang merupakan penghubung antara Kota Makassar dan Kabupaten Gowa terbilang cukup padat dilalui oleh kendaraan mulai dari pagi hingga malam sehingga hampir tiap waktu jalanan ini selalu terkena macet. Berbicara soal kemacetan di Jalan Sultan Alauddin, di jalan ini terdapat dua kampus ternama serta merupakan kawasan perdagangan.

JALAN A.P. PETTARANI

Jalan A.P. Pettarani yang merupakan salah satu ruas jalan poros dan protokol Kota Makassar juga terkenal sangat padat, bahkan termasuk salah satu titik macet di Makassar. Walaupun termasuk jalan protokol, jalan ini tak jarang juga dijadikan panggung aksi demonstrasi bagi mahasiswa. Biasanya titik kemacetan akan dimulai dari pertigaan Jalan A.P. Pettarani bagian selatan (Dekat Sekolah MAN 2 Model) hingga ke kantor DPRD Kota Makassar.

JALAN RAPPOCINI RAYA

Jalan Rappocini sebenarnya adalah jalanan yang menghubungkan antara Jalan Veteran Selatan dan Jalan A.P. Pettarani. Jalan ini sebenarnya bisa dijadikan jalur alternatif jika terjadi kemacetan di Jalan A.P. Pettarani, tapi sayangnya justru jalan ini tingkat kemacetannya lebih parah. Lebar jalan yang hanya 6 meter dan dikelilingi oleh ruko-ruko di pinggir jalan menjadikan jalan ini sebagai titik macet di Makassar urutan kedua setelah Jalan Sultan Alauddin.

JALAN URIP SUMOHARDJO

Selain jalan A.P. Pettarani yang merupakan jalan protokol di Kota Makassar, Jalan Urip Sumohardjo juga merupakan jalan besar atau jalan poros di Sulawesi Selatan. Jalan ini cukup dikenal oleh warga Makassar karena hanya dijalan ini terdapat sebuah jalan layang yang melintasi antara Jalan A.P. Pettarani dengan Jalan Tol Reformasi. Selain itu, jalan ini terkenal sebagai panggung utama ketika aksi turun jalan mahasiswa berlangsung.

JALAN PERINTIS KEMERDEKAAN

Kemacten Di Jalan Perintis Kemerdekaan Setelah Dari Jembatan Tello

Dari keempat jalan yang disebutkan di atas, mungkin inilah satu-satunya jalan yang jika macet akibat aksi damai mahasiswa akan sulit mencari jalur alternatif. Soalnya Jalan Perintis Kemerdekaan ini merupakan urat nadi yang menghubungkan Kota Makassar bagian timur dengan bagian barat dan selatan yang dipisahkan oleh sungai Tallo.

Kemacetan ini dikatakan sebagai masalah sosial karena situasi ini dapat mempengaruhi atau mengganggu setiap pribadi, khususnya pejalan kaki ataupun para pengendara kendaraan. Situasi ini menimbulkan kegelisahan dan ketidakbahagian serta disintegrasi di dalam kehidupan bermasyarakat. Aktivitas setiap individu terganggu karena keterlambatan memulai kegiatan, baik para mahasiswa, pegawai kantor, maupun yang telah mempunyai jadwal di dalam menjalani tugas atau kegiatan setiap pribadi.

Kemacetan menurut Struktural-fungsional oleh  Auguste Comte

Hubungan masalah kemacetan dengan teori struktural-fungsional Auguste Comte,masalah kemacetan yang terjadi sangat relevan untuk dijelaskan dari sudut pandang struktural-fungsional tersebut. Masalah kemacetan itu dilihat dari dua konsep struktural-fungsional, yakni konsep sistem dan konsep integrasi. Berdasarkan konsep sistem bahwa masalah kemacetan yang terjadi merupakan petunjuk adanya properti ketidakteraturan dalam bagian-bagian yang saling tergantung.

Pemerintah, Dinas Perhubungan, pengurus keamanan transportasi dan pemilik transportasi, tidak memiliki koordinasi yang baik. Pihak-pihak yang bersangkutan tersebut masih menjalankan tugas secara terpisah-pisah. Pemerintah seolah-olah tidak mempunyai peran ataupun melepaskan tanggung jawab sepenuhnya kepada pengurus keamanan dan ketertiban dan sebaliknya pihak keamanan atau ketertiban dalam berlalu-lintas seolah-olah bebas dari perhatian pemerintah.Konsep sistem lebih menekankan koordinasi antara yang satu dengan yang lain. Letak koordinasi yang dimaksudkan oleh Comte dalam hubungan dengan persoalan di atas adalah adanya kebijakan yang jelas dan tegas dari pemerintah untuk membatasi jumlah kendaraan pribadi.

Di samping itu, polisi-polisi pun mengontrol sejauh mana kebijakan tersebut dihayati dan diterapkan di dalam kehidupan bermasyarakat. Pengontrolan tersebut harus pandai dan bebas dari politik uang. Sementara itu, pihak atau kelompok yang melanggar kebijakan tersebut harus didenda dengan tegas serta pihak-sspihak tersebut diharapkan untuk bekerja sama. Dalam hal ini, pemilik kendaraan pribadi harus menyadari bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk menjamin kehidupan yang kondusif, sehingga pemilik kendaraan pribadi tersebut turut mengambil bagian di dalam kebijakan tersebut dengan membatasi jumlah kendaraan pribadi sesuai dengan isi kebijakan tersebut.

Konsep integrasi Auguste Comte di tengah persoalan kemacetan yang terjadi tersebut, menunjukan adanya sikap ketidakpeliharaan terhadap integrasi sosial dalam sistem sosial. Penginternalisasi dan sosialisasi akan nilai-nilai dan norma-norma dalam kehidupan bermasyarakat masih sangat rendah. Rendanya penginternalisasian dan sosialisasi nilai-nilai dan norma-norma kehidupan bermasyarakat tersebut disebabkan kurangnya kesadaran setiap pribadi, khususnya para pengemudi untuk menghargai berbagai kebijakan pemerintah dan rendahnya kesadaran para penumpang untuk menunggu di tempat yang cocok atau layak.

Nilai-nilai yang dimaksudkan oleh Comte adalah nilai-nilai yang berlaku di kalangan masyarakat, khususnya nilai yang melibatkan kebersamaan bukan hanya terbatas pada kelompok tertentu. Misalnya, nilai individu yang menekankan sikap induvidu di dalam kehidupan bersama. Nilai individu yang menjadi pusat perhatian dari Comte adalah saling menghargai. Dalam hal ini, nilai saling menghargai seharusnya melekat di dalam setiap individu dan telah menjadi bagian dari ciri khas setiap individu di dalam membangun kehidupan bersama. Nilai saling menghargai tersebut mengutamakan bagaimana setiap individu menghargai antara yang satu dengan yang lain. Hal ini tidak berberarti bahwa antara individu yang satu dengan yang lainnya saling menghargai sebagai pribadi, melainkan lebih menekankan pada kebijakan yang berlaku.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s