Mahasiswa, Barang Bermerek dan Nasib Buruh

Mahasiswa, Barang Bermerek dan Nasib Buruh

Oleh: Yulianti Manguluang

Buruhku sayang buruhku malang, buruhku malang mahasiswamu sayang yang sayangnya teralihkan oleh barang-barang ber-merek, high class, bergengsi. Apa kabar mahasiswa hari ini? masih sibuk mempersoalkan masalah internal lembaga dengan segala dinamika yang terjadi di dalamnya, atau sibuk mempersoalkan regulasi pihak birokrat kampus yang membatasi ruang dan gerak lembaga kemahasiswaan? Atau sibuk memikirkan gaya fashion dan merek baju, celana, tas, sepatu apa yang akan digunakan besok ke kampus, sibuk memikirkan di restaurant cepat saji mana lagi akan menghabiskan waktu makan siang, sibuk menggonta ganti kebutuhan elektronik, gadget tanpa menyesuaikan dengan skala keuangan yang lebih rasional melainkan dengan pilihan gaya, trend ataupun gengsi.

Oh buruhku sayang buruhku malang, buruhku malang mahasiswamu sayang yang sayangnya tidak lagi pada rakyat kecil yang sayangnya pada barang branded tanpa pernah memikirkan bagaimana nasib saudara-saudara pekerja yang bekerja dalam dunia fashion, kalaupun sempat dipikirkan tetapi tetap saja tidak bisa melakukan sesuatu untuk pekerja entah karena memang tidak bisa melakukan sesuatu ataupun pura-pura tuli dan buta karena lagi-lagi soal gengsi.

Buruhku sayang buruhku malang, siapa lagi yang akan memikirkan nasibmu yang dibayar sedikit upah dan sering sakit-sakitan kalau bukan mahasiswa? Tetapi pada kenyataannya merekalah yang tega dengan membeli produk yang mereka kerjakan, sibuk menari, berjingkrak, bergaya di atas penderitaan buruh. Bukankah mahasiswa yang paling sering menyuarakan mengenai keadilan, menyuarakan hak-hak azasi manusia, menyuarakan tentang kemanusiaan? Kemana perginya mahasiswa yang berdiri di baris terdepan dan berteriak dengan lantangnya?

Sebuah film dokumenter yang berjudul “The New Rulers Of The World” memeberikan gambaran bagaimana nasib pekerja. Penuturan mengenai gerakan dunia mode dan fashion yang luput dari mata para pembelanja di jalan-jalan besar, yang bermerek terkenal, mulai dari sepatu hingga pakaian bayi hampir seluruhnya dibuat di negara-negara yang miskin dengan upah buruh minim dan rendah nilai manusianya, nyaris seperti budak. Untuk mempromosikan sepatu bermerek Nike, pegolf Tiger Woods dibayar lebih tinggi dibandingkan dengan upah seluruh buruh yang membuat produk Nike di Indonesia.

Tempat tinggal para buruh yang memproduksi merek-merek terkenal yang biasa kita beli di pusat-pusat perbelanjaan. Kehidupan dengan rumah kumuh, berdesak-desakan, buruknya sanitasi yang harus dialami buruh demi sepatu bermerek, pakaian bagus, celana jeans. Tinggal di tempat kumuh, untuk mengistirahatkan tubuh mereka harus membuat kotak-kotak kardus, di tepi sungai di pinggiran kota-kota besar. Ketika hujan turun, mereka tertimpa banjir, banyak anak-anak kekurangan gizi dan terjangkiti berbagai macam penyakit. Sebuah skenario kemiskinan yang dibuat oleh globalisasi, dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar seklompok kecil orang-orang yang berkuasa ternyata lebih kaya dibandingkan dengan keseluruhan jumlah penduduk dunia dan mahasiswa yang katanya memiliki peran sebagai agen perubahan, generasi pengontrol, generasi penerus, gerakan moral dan dengan dengan segala kelebihan yang melekat pada status mahasiswa justru sibuk dan asik menjadi konsumen barang-barang bermerek tersebut.

Yang tidak kalah menarik dalam film ini adalah munculnya komentar Pramoedya Ananta Toer, bahwa “ratusan tahun lamanya Indonesia itu dihisap oleh negara-negara utara. Bukan hanya Indonesia, semua negara-negara berkulit berwarna. Sehingga Barat menjadi kuat, menjadi makmur, menguasai keuangan dan perdagangan sampai sekarang. Sekarang didikte oleh IMF oleh Bank Dunia. Negeri yang begini kaya diubah menjadi negara pengemis karena tidak adanya karakter pada elit”. Tidak salah memang jika dikatakan sesungguhnya Indonesia adalah negara dimana imperialisme lama bertemu dengan imperialisme baru. Sebuah negara yang kaya dengan sumber daya alam melimpah, dijajah oleh Belanda di abad ke-16 kekayaan alam Indonesia dirampas oleh Barat selama beratus tahun lamanya dan sekarang Indonesia dijajah dengan cara yang lebih halus namun tepat sasaran, tepat bidakannya menghancurkan mahasiswanya menghancurkan pemudanya menghacurkan generasi penerusnya dengan menjadikan mahasiswa sebagai “budak barang bermerek” menjadikan mahasiswa sebagai mahasiswa yang gemar berbelanja boros, mahasiswa yang mendewakan barang-barang bermerek dan gengsi. OH BURUHKU MALANG, BURUHKU SAYANG! BERSABARLAH, MUNGKIN MAHASISWAMU LUPA AKAN PERANNYA.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s