Patriarki sebagai Re-orientasi Marxisme(?)

Patriarki sebagai Re-orientasi Marxisme(?)

oleh: Nursandrawali Gosul

“Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis-gadis keluar rumah. Ketika saya berusia 12 tahun lalu saya ditahan di rumah; saya mesti masuk tutupan, saya dikurung di dalam rumah seorang diri sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tiada boleh keluar ke dunia itu lagi bila tiada serta dengan seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya tiada setahu kami.” – Penggalan surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar, 25 Mei 1899.

Dalam karyanya History Matters, Judith Bennett menuliskan bahwa patriarki merupakan “problem utama” dalam sejarah perempuan dan bahkan merupakan problem terbesar dalam sejarah manusia. Ia menarasikan, meskipun telah banyak perjuangan kesetaraan, tetapi patriarki masih tumbuh besar, segar, pesat dan subur sebagai anakronisme baru abad ini, “patriarki sebagai sebuah sistem tempat dimana laki-laki mendominasi, melakukan eksploitasi atas perempuan”. Imajinasi, citra dan representasi atas identitas merupakan tempat dimana kekuasaan saling berebut, saling bersitegang. Medan pertempuran dan kontestasi inilah yang menjadi lokus perhatian dalam teorisasi patriarki. Barbara Ehrenreich menambahkan bahwa sistem sosial yang digantikan Kapitalisme Industrial pada dasarnya adalah sistem sosial patriarkis. Artinya, patriarki tidaklah dihapuskan Kapitalisme, melainkan patriarki muncul dalam bentuk yang lebih modern yang sering kita sebut sebagai seksisme atau bias gender.

Dalam berbagai budaya di Indonesia, kita mendapati bahwa perempuan selalu menempati urutan nomor dua yang merupakan contoh bentuk budaya patriarki. Bahwa laki-laki cenderung menyubordinasi perempuan karena adanya dominasi atas seksualitasnya, pekerjaannya, peran, dan statusnya. Menyebabkan sistem keluarga modern menjadi cenderung berkelas, laki-laki sebagai kaum borjuis, perempuan dan anak sebagai kaum proletar. Pengelompokan tersebut mengindikasikan bahwa budaya patriarki cenderung menindas dan menghisap tenaga perempuan. Inilah yang menjadi realitas di Indonesia dari masa lalu hingga kini. Seperti yang kita ketahui, penindasan gender adalah bagian dari adanya ketidaksetaraan dalam sistem Kapitalisme. Pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga yang tidak seimbang mengakibatkan superioritas laki-laki.

Misalnya, jika perempuan hanya menjadi pekerja dapur dan laki-laki menjadi pekerja industri, ringannya kerja perempuan sebenarnya hanyalah ilusi dari patriarki karena dengan tekanan subordinasi, maka perempuan sebenarnya mendapatkan nilai kerja yang lebih banyak dengan keuntungan yang sedikit. Perempuan tidak hanya menjadi pekerja dapur, tetapi ia menjadi budak kasur, dan juga menjadi penghuni penjara yang biasa kita sebut rumah, menjadi bagian dari sindrom housewives.  Sedangkan laki-laki mendapatkan keuntungan dengan hanya menjadi pekerja industri misalnya, ia mendapat pelayanan lebih dari perempuannya. Perempuan sendiri akhirnya hanya pasrah terhadap nasib sebagai pekerja dapur dan budak kasur yang tiap harinya mendapat untung tidak seimbang dengan pekerjaan laki-laki. Begitulah kiranya yang digambarkan Engels mengenai dominasi patriarki yang masih dapat kita saksikan sampai hari ini. Walaupun Engels dan Morgan dalam hal ini sepakat bahwa pada mulanya manusia bersifat matrilineal.

Menurut catatan klasik Marxisme, kekuasaan adalah dominasi yang dipahami sebagai model eksploitasi kelas; dominasi dipahami sebagai proses apropriasi kapitalisme atas nilai surplus yang diproduksi oleh buruh. Seperti telah diprotes oleh banyak feminis, bahwa pandangan Marx ini buta-gender, karena mengingkari status perempuan yang lebih banyak dirugikan. Iris Young menyebut ini sebagai teori sistem yang membuat perempuan tertindas, yaitu dari sistem dominasi laki-laki dan sistem yang mengalienasi perempuan dari pekerjaan strategis di luar rumahnya. Patriarki adalah representasi dari identitas maskulin yang memiliki kehendak atas kekuasaan. Kekuasaan ini tak serta merta dioperasikan dari laki-laki pada perempuan, tetapi paling pertama adalah, membangun “sistem kekuasaan” yang dapat dipakai siapapun, baik oleh perempuan dan laki-laki untuk melakukan penindasan.

Jantung dari patriarki adalah konstelasi seksualitas manusia. Materialisme historis mengenai penindasan perempuan menunjukkan bahwa penaklukan atas perempuan terkait erat dengan berakhirnya masyarakat komune ‘primitif’ yang egaliter, yang kemudian digantikan oleh kemunculan masyarakat berkelas (class society), dimana masyarakat berkelas tersebut dicirikan oleh adanya hak milik pribadi (private property), keluarga (family) dan negara (state).  Demikianlah, sejak masa savagery, hingga kemudian lahir keluarga-keluarga inti (nuclear family), dimana mulai ada pewarisan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi, dimana Keluarga-Ayah menjadi kunci, patriarki pun mulai tumbuh. Kemudian pada masa imperium/kerajaan, patriarki dilanggengkan melalui berbagai tradisi dan adat istiadat, dari mulai ruang-ruang dalam rumah, sastra (Serat Centhini misalnya), pakaian, tari-tarian dan sebagainya. Hingga pada masa kapitalisme, sumber dari subordinasi dan opresi perempuan, yakni capitalist patriarchy, dimana patriarki dilanggengkan oleh kapitalisme dan kapitalisme membutuhkan politik patriarki demi memperbesar akumulasi kapital.

Lantas, bagaimana meretas budaya patriarki?

Kelemahan dari sisterhood ialah bahwa gerakan seperti itu justru mengasingkan diri dari keseluruhan struktur dominasi laki-laki dalam masyarakat. Terkait dengan pertanyaan besar tersebut, kita haruslah bertolak pada sebuah prinsip, bahwa tujuan dari pembebasan perempuan harus diletakkan sebagai sebuah hal yang berada di tingkatan suprastruktur, atau ideologi, atau budaya, dan bukan pada struktur basis ekonomi. Dalam hal ini, dengan merujuk pada Marx, Engels, dan Lenin, beberapa hal mengenai ide dari women’s liberation atau pembebasan perempuan yang harus ada dalam setiap revolutionary project. Ide-ide tersebut diantaranya Women’s question merupakan bagian dari social question (yakni, pertanyaan mengenai relasi produksi, kepemilikan, dan relasi kelas) dan dapat diselesaikan dalam penggulingan kapitalisme.

Perempuan harus melawan budaya patriarki dengan mengorganisir diri dan memberikan pendidikan!  Mengapa harus diperjuangkan bersama? Karena Feminisme bukanlah sekedar perjuangan perempuan untuk naik derajat hingga melebihi laki-laki, melainkan Feminisme adalah perjuangan perempuan untuk membangun generasi.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s