Peduli (Siapa?)

Peduli (Siapa?)

Sebuah refleksi tentang pendidikan dan terkikisnya kepedulian sosial

Oleh: Yulianti Manguluang

Manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial, ciptaan Tuhan yang membutuhkan makhluk hidup lain untuk berinteraksi dan untuk pemenuhan kebutuhannya. Setiap mausia dengan hati nuraninya sesungguhnya memiliki kepekaan sosial. Manusia memiliki perasaan dan emosi yang mudah terharu, prihatin dan sebagainya bila melihat sekelilingnya membutuhkan pertolongan membutuhkan pertolongan dan bantuan.

Kepedulian sosial yaitu sebuah sikap keterhubungan dengan kemanusiaan pada umumnya, sebuah empati bagi setiap anggota komunitas manusia. Kepedulian sosial adalah kondisi alamiah spesies manusia dan perangkat yang mengikat masyarakat secara bersama-sama (Adler, 1927).

Selain karena manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan makhluk hidup lain dan memiliki perasaan ataupun emosi yang mudah tersentuh manusia juga memiliki keistimewaan yaitu manusia mampu mengembangkan pemikirannya melalui pendidikan.

Frederick J. Mc Donald mengemukakan pendapatnya bahwa pendidikan ialah suatu proses yang arah tujuannya adalah merubah tabiat manusia atau peserta didik. Pendidikan sebagai suatu upaya dalam memanusiakan manusia. Gunning dan Kohnstam mengemukakan pendidikan adalah proses pembentukan hati nurani, sebuah pembentukan dan penentuan diri secara etis yang sesuai dengan hati nurani.

Berdasarkan beberapa pengertian pendidikan menurut beberapa ahli tersebut maka sudah seharusnya manusia yang katanya “berpendidikan” memiliki kepedulian sosial baik terhadap sesama manusia, hewan, tumbuhan, maupun lingkungan. Tetapi pada nyatanya, pendidikan hari ini semakin memperjelas garis pemisah antara manusia satu dan manusia lainnya. Sebagai contohnya fenomena yang terjadi di sekitar kita yaitu sering ditemukan orang yang berjalan kaki di tengah banyaknya pengendara motor yang seharusnya bisa memberikan tumpangan, nyatanya? jangankan menawarkan tumpangan alih-alih malah mengambil hak pejalan kaki dengan membawa motor secara ugal-agalan di trotoar jalan pula. Contoh yang lain, di sekitar kita masih banyak orang yang katanya “berpendidikan” tetapi membuang sampah bukan pada tempatnya ini jelas tidak mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan dan akan berdampak negatif kepada manusia lain. Atau mungkin sering didapati di sekitar kita karena kesibukan bermain gadget sambil berjalan hingga menabrak orang lain atau karena sibuknya kita dengan diri kita sendiri sehingga jika terjadi kecelakaan di jalan dibiarkan begitu saja atau mungkin hanya sekedar mengabadikan momen kecelekaan tersebut kemudian mempostingnya ke media sosial. Sedikit aneh memang, ditambah lagi orang-orang yang katanya “berpendidikan” dengan riangnya berfoto di dalam restoran makanan cepat saji dan dengan bangganya memposting sementara di luaran sana masih banyak orang yang memakan makanan sisa. Meskipun setiap manusia menginterpretasikan kepedulian sosial dengan cara masing-masing. Tetapi hal ini sedikit membuat otak dan hati bereaksi dan merefleksi “apa yang salah dengan semua ini, sistem pendidikan kah? atau orientasi manusia yang mendapatkan pendidikan untuk mengembangkan dan memperkaya diri pribadi saja?” Entahlah!

Sangat disayangkan jika kemajuan pendidikan hanya demi memajukan pola pemikiran yang akan berorientasi untuk prospek dunia kerja diri pribadi saja, bukan untuk mendidik moral dan kepribadiaan yang peka terhadap gejala-gejala sosial. Seorang yang memiliki pendidikan sudah seharusnya memiliki kepedulian, sesuai dengan tujuan pendidikan pada Undang-undang nomor 20 tahun 2003 yaitu tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sudah seharusnya orang yang memiliki pendidikan juga memiliki tingkat kepakaan atau kepedulian sosial yang tinggi seperti yang dikatakan oleh pengarang Pramoedya Ananta Toer bahwa “seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s