Agama Lajur Bebas Hambatan Ekonomi

Agama Lajur Bebas Hambatan Ekonomi

Oleh : Rakhmat Nur Adhi

 

Sempurna yang kau puja dan ayat – ayat yang kau baca ?

Tak kurasa berbeda, kita bebas untuk percaya

“Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”

(Hagia – Barasuara)

 

Wacana agama menjadi penggalan pendek dari garis sejarah peradaban panjang umat manusia. Sudah banyak terjalin hubungan antara agama dengan aspek-aspek lain. Dan dalam hal ini Agama berperan penting dalam perubahan sosial masyarakat dunia dalam kurun waktu yang cukup lama.

Hubungan agama dengan negara; hubungan islam dengan demokrasi; islamisasi ilmu atau hindunisasi ilmu; ekonomi islam; kebangunan islam; fundamentalisme agama dan pembaharuan pemikiran bisa jadi merupakan daftar asesoris dari wacana hubungan panjang dan (mungkin) tidak pernah selesai antara agama dengan perubahan social di masyarakat tersebut. Hubungan tersebut dibangun dari rumusan pertanyaan dan ragam tesis mengenai letak agama dalam perubahan social.

Kemajuan sebuah masyarakat, seperti telah disinggung di atas pada dasarnya ditandai dengan semakin melebarnya deferensiasi struktural dibarengi ketajaman spesialisasi, sekaligus homogenisasi budaya. Pada derajat tertentu realitas kemajuan yang digambarkan ini bersifat antagonis, dengan berkembangnya perbedaan agama yang membengkak.

Salah satu hal yang belum tuntas di bicarakan sampai saat ini  adalah agama dan hubungannya dengan ekonomi. Tak bisa di pungkiri bahwa kedua aspek dalam kehidupan ini telah berafiliasi satu sama lain. Contoh sederhana dari bersatunya kedua hal tersebut adalah produk-produk dengan menggunakan embel-embel identitas agama yang kemudian di kapitalisasikan. Maka tak jarang kita menemukan kerudung, peci, baju-baju yang kemudian di beri label merk-merk tertentu yang jelas mempengaruhi status dan kedudukan orang-orang yang meggunakannya dalam masyarakat. Atribut-atribut keagamaan pada perjalanannya menjadi sebuah hal yang dapat di gunakan sebagai pendongkrak status seseorang. Harus di pahami memang bahwa kapitalisme dengan giatnya mengekspansi seluruh sendi-sendi kehidupan manusia.

Pembahasan tentang ajaran agama dengan adanya orientasi menumbuhkan kapitalisme sebenarnya telah di bahas oleh Max Weber. Orientasi agama dalam kaca mata Max Weber menempatkan ide kedalam konteks nilai-nilai etika protestan. Dalam hal tersebut ide merujuk kepada bentuk tertinggi dari kewajiban moral bagi individu untuk memenuhi tugas-tugasnya dalam urusan duniawi. Konsep tersebut memproyeksikan perilaku religius kedalam aktivitas kehidupan  sehari-hari. Tentu saja, ini sangat kontras dengan kehidupan  monastik (dalam rumah ibadah) ideal menurut kaum Katholik.

Calling merupakan bentuk ide yang di dasarkan oleh Weber terhadap bentuk tertinggi dalam moral. walau  ide tentang calling  sudah ada dalam doktrin Martin Luther, Weber berpendapat ide itu makin di kembangkan oleh kaum puritan, yakni; Calvinisme, Methodisme, Pietisme, dan Baptisme. Kebanyakan dari sikusi Weber terkonsentrasi pada Calvinisme.

Dari berbagai elemen dalam Calvinisme, ada satu pendapat khusus Weber dalam tesisnya tentang etika yaitu doktrin Calvin tentang takdir (predestination). Doktrin itu berbunyi; hanya beberapa orang yang terpilih yang bisa terselamatkan dari kutukan, dan pilihan itu sudah ditetapkan jauh sebelumnya oleh tuhan. Menurut Calvin  sendiri mungkin bisa merasa yakin atas keselamatan dia sendiri atas dasar instrumen kenabian; namun tak seorangpun dari pengikutnya yang bisa dipastikan mendapatkan penyelamatan. Komentar Weber, dalam ketidak manusiawiannya yang ekstrim, doktrin ini punya konsekuensi bagi kehidupan generasi yang menyerah pada konsisten besar. Perasaan kesendirian di dalam hati yang belum pernah ada sebelumnya.

Dari kondisi tersebut lah, menurut Weber kapitalis dilahirkan. Di level pastoral, terjadi dua perkembangan. Pertama, seseorang menjadi diwajibkan meyakini diri sendiri sebagai ‘orang yang terpilih’ sehingga kurangnya keyakinan bisa dipandang sebagai indikasi kurangnya iman. Kedua, performa ‘kerja yang baik’ dalam aktivitas duniawi menjadi diterima sebagai media dimana keyakinan itu bisa ditunjukkan. Oleh karena itu, kesuksesan calling pada akhirnya dianggap sebagai ‘tanda’ atau ‘sinyal’ tetapi bukan alat untuk menentukan seseorang itu terpilih atau tidak. Akumulasi kekayaan dibolehkan sejauh itu dikombinasikan dengan karir besar dan upaya yang sungguh-sungguh. Akumulasi kekayaan di kecam jika dilakukan hanya untuk menopang kehidupan mewah bermalas-malasan atau manja.

Jadi Calvinisme, menurut Weber, menyuplai energi dan dorongan moral bagi para wirausahawan kapitalis. Weber mengungkapkan, doktrin-doktrin Calvinisme memiliki ‘konsistensi besi’  dalam disiplin habis-habisan yang dituntut dari para pengikutnya. Kedua aspek dari doktrin panggilan ini, yakni kesungguhan dalam bekerja dan hak serta tugas individu untuk memilih bidang kegiatannya, jelas akan membantu perkembangan ekonomi bila keduanya tidak hanya diajarkan, tetapi dipraktekkan secara aktual. Weber berkeyakinan bahwa kedua aspek tersebut secara merata dipraktekkan di mana saja doktrin Calvinisme tentang takdir (predestination) dipegangi secara sungguh-sungguh.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s