Kamuflase Kesadaran Kolektif

kartini

Kamuflase Kesadaran Kolektif

 Oleh:

Nursandrawali Gosul

Die, sejarah ditulis oleh para pemenang. Namun tak berlaku lagi bagi sebuah peradaban yang sehat. Jerman merupakan salah satu contoh negara yang menghidupkan sejarah dengan memorialisasi, yaitu mendirikan situs-situs ingatan, baik dalam bentuk fisik, maupun non-fisik. Fisik, misalnya monumen, museum, dan lain-lain. Non fisik, misalnya: penulisan sejarah dengan objektif dan mengakui para Liyan, penulisan buku sastra, pembuatan film, pengajaran sejarah dalam kurikulum-kurikulum sekolah dan universitas, dan lain-lain. Teori bahwa negara besar adalah negara yang agung, terbantahkan oleh satu contoh ini. Negara yang besar, adalah negara yang mengakui kecacatan dan dosa-dosanya di masa lampau.

Sejarah bukan sekedar ulasan masa lalu, lebih dari itu mengandung konsep dan ruang kritis dalam narasi. Ruang kritis ini, sayangnya, telah lama menjadi korban dari dinamika sosial yang menghilangkan mereka dari konten dan konsep tentang sejarah itu sendiri. Ruang yang hilang tersebut melahirkan amnesia sosial, yang kemudian melahirkan kesadaran sejarah yang palsu (pseudo-historical consciousness).

Amnesia sosial merupakan terminologi yang diciptakan untuk mengingat apa yang hilang dalam memori kolektif masyarakat. Amnesia sosial ialah hasil dari represi memori yang dipaksakan, ketidakpedulian, perubahan situasi, atau impunitas yang dilakukan oleh kelompok tertentu dalam usaha menghapus jejak kejahatan di masa lalu dalam sejarah. Amnesia sosial terjadi jika sebuah masyarakat, atau warga negara, mengalami trauma hebat atas kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan oleh aktor-aktor politik atau penguasa sebelumnya. Pemaksaan atas penghapusan memori ini mengubah identitas, dan pada tingkatan terburuk, merusak konstruksi identitas. Usaha-usaha untuk melawan amnesia sosial ini biasanya dilakukan dengan protes, kisah-kisah, memori lokal, nostalgia memori, memorialisasi, dan penulisan karya sastra—jika penulisan sejarah formal tidak dimungkinkan.

Amnesia sosial dapat dilawan dengan “politik memori”. Politik memori merupakan alat yang digunakan untuk merekam, mengingat atau mengedit dan mengkonstruksi sebuah versi fakta sejarah yang sebelumnya: dihilangkan, dikaburkan, dan disembunyikan (Nasrallah, 2005). Politik memori berupa strategi kolektif bagaimana kebenaran objektif dan ingatan dapat dihidupkan kembali untuk menegakkan keadilan dan merestorasi hak-hak ‘korban’ yang sebelumnya diabaikan dan ditindas begitu saja. Melawan amnesia sosial merupakan perihal penting dari kesehatan sebuah peradaban, karena yang melupakan kejahatan di masa lalu, biasanya akan mengulangi kejahatan tersebut di masa yang akan datang.

Percakapan sejarah dapat dimulai dengan autobiografi yang dituliskan melalui puisi atau penulisan karya genre sastra lainnya untuk membantu mengungkap kembali narasi kekerasan itu sebagai figur yang tidak merusak dan melahirkan traumatik dalam masyarakat. Politik memori hadir untuk melawan amnesia sosial yang akut dalam wilayah pasca konflik, seperti Aceh, Papua, atau daerah di Indonesia lainnya yang sering me-labeli individu atas dasar perbedaan gender. Dengannya lidah lebih perkasa dari laras senjata. Darinya tulisan merupakan senjata yang digunakan untuk menundukkan kembali kekerasan-kekerasan yang pernah terjadi di masa lalu.

Melupakan, dalam teori psikologi, telah disamakan dengan impunitas—ketakterjamahan pelaku kejahatan terhadap hukuman. Impunitas dan amnesia sosial memberikan jalan kepada penjahat-penjahat kemanusiaan lepas dan melarikan diri dari tanggung jawab hukum yang harus dia pikul sebagai ganjarannya. Impunitas secara moral dan politik sangat berbahaya bagi kelangsungan sebuah negara, karena dia akan abai, atau bahkan, menjadikan kembali penjahat tersebut sebagai penguasa baru dengan wajah baru yang dipermak.

Suara perempuan merupakan salah satu fokus yang selama ini banyak dihilangkan dalam penyakit akut amnesia sosial. Mengapa? Karena perempuan sulit menarasikan pengalamannya dalam narasi politik dan narasi formal. Dalam filsafat feminisme, kemudian dikenal, bahwa yang personal atas perempuan merupakan perihal yang politis, the personal is political (yang dipopulerkan oleh Carol Hanisch di tahun 1969). “Memori budaya” perempuan dibangun atas praktik-praktik representasi yang sifatnya personal dan berangkat dari fragmen-fragmen pengalaman. Ecriture feminine (meminjam Helene Cixous), merupakan pengumuman, bahwa yang “rasional” bukan satu-satunya sumber kebenaran. Bahwa “pengalaman” juga merupakan sumber kebenaran. Praktik-praktik sitasi, memorialisasi, jejak-jejak autobiografis baik dalam puisi, novel, drama juga merupakan usaha-usaha perempuan untuk menceritakan, menarasikan, dan menyusun sejarah yang selama ini dipinggirkan oleh sejarah formal negara yang sifatnya masih sangat bias dan patriarkis. Memori dan konstruksi identitas perempuan diasah melalui narasi-narasi yang mencatat, merekam, dan menyimpan segala yang semena-mena.


Jangan naif, Tuan.

Gunakan pedang pikirmu membaca realita ini

Tentang kemerdekaan dari luka sejarah

tentang damai dari kebodohan dan kesewenang-wenangan

tentang duduk semeja dengan kaum Cut Nyak Dhien

tentang ramuan obat untuk rahim-rahim yang diperkosa

tentang tangisan anak dhuafa untuk segelas susu. (zubaidah Djohar : Damai Siapa? 2010)

….

Dengan ini dia membangun politik memorialisasi yang mencatat waktu dan ruang yang tak mungkin dijamah oleh sejarah formal. “Politik mengingat” ini membantu masyarakat “membaca” memori—bagaimana mereka mengontrol peristiwa-peristiwa traumatik dan penuh kekerasan dengan katarsis dan pelepasan. Dan dia juga memaksa peradaban untuk mengingat dan melupakan secara adil. Dengan cara ini nostalgia dibangun sebagai strategi “pendidikan”. Politik memori perlu dibangun, karena ia berfungsi untuk merehabilitasi dan mengusahakan rekonsiliasi dalam situasi pasca konflik. Bahkan, konflik internal yang sangat kejam di masa lalu dapat disembuhkan dengan politik memori.

Selamat hari mengenang sosok ‘perempuan’.

Walau ia telah di telan bumi, semoga rihlah-nya masih menggema di setiap sanubari, menggerakkan hati perempuan – perempuan yang lebih suka bersolek dari pada ‘berbenah diri’.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s