Media Massa dan Kedurhakaan

Oleh

Ilham alfais

ketika-gue-gondrong.jpg
source : viaicak.com

 

     Kehidupan di era informasi adalah saat dimana hilangnya batas-batas wilayah individu secara fisik. Hilangnya batas-batas ini diartikan sebagai sebuah kemampuan manusia atau setidaknya teknologi informasi yang dimilikinya mengakses beragam informasi yang tersedia baik cetak, audio maupun visual yang dikatakan sebagai media massa.

            Teknologi informasi ini adalah sebuah perwujudan realitas baru masyarakat manusia dimana kemampuannya dalam menginjeksi nilai dan mengendalikan opini massa/masyarakat hingga akhirnya media massa juga berfungsi sebagai stakeholder pendukung dalam mewujudkan keteraturan sosial. Namun pada prakteknya nilai dan kepentingan di balik media massa menyempurnakan penindasan pada masyarakat.

            Tulisan ini mencoba menelaah bagaimana media massa dalam membentuk nilai, opini dan kepercayaan masyarakat yang membawa pada kedurhakaan seorang anak manusia. Sebuah pengalaman tentang serangan media terhadap orang tua dan keluarga dalam mengontrol perilaku hinggah tubuh, misalnya gondrong.

Konstruksi sosial media massa

            Konstruksi sosial adalah proses menciptakan pengetahuan dan realitas sosial melalui  interaksi simbolis dari suatu kelompok sosial. Menurut Berger masyarakat adalah produk dari manusia dan manusia adalah produk masyarakat, proses pembentukan tersebut memiliki tiga tahapan yang bergerak secara simultan. Ketiga proses tersebut yaitu eksternalisasi, yaitu usaha pencurahan atau ekspresi diri manusia ke dalam dunia baik dalam bentuk mental maupun fisik, objektivasi ialah hasil dari kegiatan mental dan fisik manusia (mengalami proses institusional atau pelembagaan), dan internalisasi proses penghayatan kembali dunia objektif kedalam kesadaran subjektif sehingga subjektivitas individu diperngaruhi oleh struktur dunia sosialnya. Maka manusia ialah berperan sebagai aktor dalam tindakan dan interaksi sosial sekaligus sebagai pencipta realitas itu.

   Melalui ketiga tahapan ini yang berlangsung terus menerus dan dialektik memungkinkan media massa membentuk atau mengonstruksi masyarakat. Media massa yang paling efektif dalam mengonstruksi realitas sosial adalah televisi karena mampu mencapai audiensinya dalam jumlah yang besar dan yang paling banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga memungkinkan dalam membentuk opini masyarakat.

           Interaksi antara televisi dan penontonnya dapat dilihat sebagai proses eksternalisasi oleh media massa dan internalisasi oleh penonton. Dalam tahap ini media dapat memberikan informasi serta opini yang dapat mempengaruhi penontonnya dan akan dilakukan dengan intensitas yang tinggi sehingga menguasai kesadaran subjektif penontonnya. Penonton yang banyak dari televisi yang berusaha mengeksternalisasikan informasi dan opini media kedalam tindakan dan interaksinya sosialnya sehingga opini dan informasi itu mengobjektivasi kedalam realitas sosial masyarakat.

     Namun memahami media sebagai sebuah subsistem yang berarti terikat pada subsistem lainnya (ekonomi, politik sosial budaya) membuat media terkadang berdiri pada satu sisi kepentingan dan melancarkan serangan-serangan dalam mengarahkan opini publik sesuai dengan kepentingan dibaliknya.

Kedurhakaan yang ditimbulkannya

            Melihat bagaimana kemampuan media mampu mengonstruksi sebuah realitas sosial juga menimpa penulis, ya ini terkait dengan pria dengan rambut panjang atau yang sering dikatakan gondrong. Media televisi sering melancarkan aksi-aksi yang membentuk opini negatif tentang gondrong, seperti dalam sinetron yang ditayangkan pada waktu-waktu bersantai dengan keluarga dimana aktor penculikan, perampokan, preman dan pelaku kejahatan lainnya sering dengan orang yang berambut gondrong atau yang juga menjadi judul pada berita “nyamar jadi tukang ojek, pengedar ganja gondrong ini tetap ketahuan tim buser cikarang timur”. Ada atau tidak ada kata gondrong tidak akan mengubah isi berita tersebut.

            Maka dalam keluarga pernyataan-pertnyataan seperti “pergi mko cukur”, “kayak saja mko penjahat saya lihat” dan sebagainya sering terlontar dari mulut keluarga penulis yang apabila tidak dituruti maka dicap sebagai pembangkangan, kedurhakaan serta memberikan pembenaran kenapa gondrong selalu identik dengan kriminal. Media sekali lagi berhasil dalam menggiring opini masyarakat dengan tanpa dasar ilmiah maupun filosofis. Sebab jangan pertanyakan kenapa saya gondrong tapi pertanyakan kenapa saya potong rambut?, rambut pada dasarnya memang untuk tumbuh. Namun sekali lagi media telah menang dalam pertempuran ini dan saya harus mengakui itu.

Panjang umur media.

*Penulis adalah mahasiswa sosiologi UH 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s