Universalisme Agama dan Wujud Bhineka Tunggal Ika

Oleh

Suleman Gibran

islam dan agama-agama lain.jpg

Pranata keagamaan merupakan salah satu saluran di antara beberapa saluran yang paling dianggap sakti mandraguna dalam mempromosikan norma-norma kemanusiaan.

Di Abad ke 19 Auguste Comte, seorang sosiolog berkebangsaan Perancis sengaja mendirikan agama kemanusiaan yang disebutnya agama humanisme dengan tujuan untuk membenahi situasi sosial kemasyarakatan.

Disini, tulisan ini pada dasarnya tidak akan mendiskusikan atau membuat mosaik atas nama kepentingan atas proses proses  yang terjadi pada aksi bela islam 411, 212 ataupun 412 kemarin. Tulisan ini hanya akan fokus memberi penekanan dan perhatian kepada bagaimana agama dan ajaran ( ritus ritus agama ) yang berbeda itu sesungguhnya  bukan  menjadi suatu ancaman satu terhadap yang lain. Malah sebaliknya bahwa agama sesungguhnya menjadi perekat kehidupan bagi realitas yang jamak,  lebih khusus untuk indonesia dengan ciri masyarakatnya yang multi ras etnis dan agamanya.

Jika berbicara secara ideal, semua suku bangsa dan negara di dunia ini, pun mengakui bahwa keberagaman agama  sebagai bentuk peradaban dunia.

Islam sebagai satu contoh agama kaffah dan penuh hikmah dengan kesempurnaan  ajaran ajarannya. Islam yang damai, dan islam yang toleran adalah modal utama dalam merekat kebhinnekaan yang ika (satu,tunggal) mengingat di republik ini, islam merupakan agama yang paling banyak dianut oleh masyarakat Indonesia.Dan sebagai agama mayoritas di negeri ini, tentu tidak ada salahnya kalau islam dijadikan representatif religius, agama yang punya kontribusi besar dalam mewujudkan Bhineka Tunggal Ika.Mengingat konsepsi Islam sebagai rahmatan lil alamin yang ajarannya universal ,buat semua ummat manusia dan  sejagat raya di alam semesta ini.

Universalisme Agama

Barangkali, masih sangat dibutuhkan suatu penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan universal. Untuk membedakan dengan yang umum , Karl Marx menjelaskan sesuatu yang universal diukur dengan kategori dari suatu standar yang harus dipenuhi oleh setiap manusia.Dan standar  itu harus memenuhi ukuran tiga dimensi. Pertama eksistensi manusia (kerja), kedua subtansi manusia ( produk ) , dan ketiga, hakekat manusia (spesies manusia sebagai homo sosial).

Manusia disebut manusia ketika manusia memenuhi standar tiga dimensi itu. Sedangkan Emile Durkheim dan Max webber melihat sesuatu yang Universal sebagai adanya elemen elemen yang sama dari setiap entitas. Meski tidak menutup kemungkinan adanya penjelasan atau makna yang berbeda menurut penjelasan berdasarkan entitasnya masing masing.

Elemen universal jika dikembalikan pada perbincangan agama kaitaanya dengan kebhinnekaan sebagai maksud awal tulisan ini ialah maka yang dimaksud adalah berarti korelasi agama dengan yang  ilahi dan sisi sosial dari dunia ilahi dalam hal ini diluar ritus. Keduanya dibedakan, tapi keduanya tidak dapat dilihat berdiri sendiri, kedua sisi itu saling berpengaruh. Tindakan tindakan sosial disetir oleh keyakinan akan  yang Ilahi.

Dari sini fungsi penekan utama agama sebagai  yang ada pada semua agama agama adalah sisi sosial agama yang diungkapkan pada tindakan tindakan kepedulian sosial. Dan sisi sosial agama inilah sebagai yang universal, yang ada pada semua agama.

Fungsi Sosial Agama : Sebagai Pemersatu Di Tengah Realitas Yang Jamak

Perbedaan perbedaan pemaknaan dapat ditarik secara inklusif ataupun ekslusif. Dan masing masing akan menampilkan arah tindakan tindakan yang berbeda .Konsekuensi konsep keselamatan yang diorientasikan oleh pemaknaan yang inklusif ataupun ekslusif  pada akhirnya akan menimbulkan tindakan tindakan agama yang sangat bertentangan dengan satu dengan yang lain.

Dari sanalah kemungkinan konflik agama yang memperebutkan atas nama “The will of God”pada tataran implementasi . Kecintaan kecintaan Tuhan atas manusia saling beradu ,saling melecehkan, untuk merebut masa pemujanya dan tidak segan segan pula dengan memakai kekerasan.

Kehancuran  persaudaraan dan nilai manusia sebagai mahluk Tuhan tidak dapat dihindari. Dari sana agama telah mengoperasikan fungsi deksrustif ,agama tidak menghargai perdaban.

Fungsi sosial agama harus memainkan peran bagi upaya upaya untuk menghormati manusia, sebagai mahluk ciftaan Tuhan  ,menghargai perbedaan perbedaan ,dari setiap makna oleh elemen elemen agama universal . Fungsi sosial agama seharusnya sama dengan menghargai perbedaan perbedaan itulah karakter agama yang beradab , inilah syarat utama untuk membangun dunia yang beradab.

Disanalah ruang komunikasi dialogis sebagai tempat mengkomunikasikan dengan santun ,implementasi sosial agama menjadi suatu kebutuhan yang tidak mungkin dapat diabaikan .Dia menjadi modal sosial utama dalam merajut kedamaian dan keharmonisan dalam satu Kebhinnekaan yakni Bhinneka Tunggal Ika.

 

*Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi UH

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s