Konsumsi & Agama Konsumerisme

 

Oleh

Rakhmat Nur Adhi

quote-consumerism-is-our-national-religion-jennifer-stone-118-43-87.jpg

 

Akhir dari sebuah perjalanan

Mendarat di sudut pertokoan

Buang kepenatan

Awal dari sebuah kepuasan

Kadang menghadirkan kebanggaan

Raih keangkuhan

Tapi tapi

Itu hanya kiasan

Juga juga suatu pembenaran

Atas bujukan setan,

Hasrat yang dijebak jaman

Kita belanja terus sampai mati.

(belanja terus sampai mati – Efek Rumah Kaca)

Tentang konsumsi

Apa yang menjadi karakteristik manusia yang hidup di zaman sekarang ? benarkah bahwa kutipan lagu di atas dapat mewakili ciri khas masyarakat saat ini ? sepertinya berbelanja agaknya telah membudaya pada manusia yang hidup di zaman kontemporer  dewasa ini.

Sejarah manusia adalah sejarah konsumsi. Konsumsi terkait dengan pemakaian barang dan jasa untuk hidup layak dalam konteks sosio-ekonomi-kultural tertentu. Ini merupakan permasalahan bertahan hidup (survival). Mengonsumsi merupakan implikasi dari manusia memiliki kebutuhan, namun tidak cukup diri.

Bagaimana dengan konsumerime sendiri ? bila mengonsumsi semula adalah upaya manusia untuk bertahan hidup, pada perkembangan berikutnya, konsumsi berubah menjadi konsumsi yang mengada-ada. Motivasi yang awalnya hanya untuk bertahan hidup berubah menjadi untuk identitas.

Tak bisa dielakkan lagi ini adalah sebuah era dimana orang membeli barang bukan karena nilai manfaat atau gunanya namun karena gaya, demi sebuah citra yang diarahkan dan dibentuk oleh iklan dan mode lewat televisi, tayangan sinetron, acara infotainment, ajang kompetisi para calon bintang, dan sebagainya. Yang ditawarkan di dalam media iklan bukanlah nilai guna suatu barang tapi citra dan gaya bagi pemakainya. Tidak penting apakah objek (barang) itu berguna atau tidak, perlu atau tidaknya konsumen. Karena kita tidak lagi mengonsumsi kegunaan tapi makna yang dilekatkan pada objek tersebut. makna tidak akan pernah berakhir, dia akan terus didaur ulang atau bereproduksi menjadi makna-makna lain. Kita ibarat game pacman yang tidak pernah berhenti memakan koin tanpa mengetahui dimana batas dari memakan koin. Kita telah menjadi pemboros yang agung, mongonsumsi tanpa henti, rakus, dan serakah. Konsumsi yang kita lakukan justru menimbulkan ketidakpuasan. Kita menjadi teralienasi karena perilaku konsumsi kita. Pada gilirannya ini menghasilkan sebuah kesadaran palsu. Seolah-olah terpuaskan padahal kekurangan, seolah-olah bahagia padahal menderita, seolah-olah berkecukupan padahal miskin.

Consumption Religion

Aktivitas konsumsi memang betul-betul telah memasuki seluruh sendi-sendi kehidupan, mulai dari pola interaksi dalam masyarakat sampai ke tubuh. Konsumsi memang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan tapi lebih daripada itu aktivitas konsumsi menjadi kegiatan pendongkrak status sosial seseorang dalam masyarakat. Setidaknya ada beberapa karakteristik perilaku konsumtif seperti membeli produk untuk menjaga status, penampilan, dan gengsi, memakai sebuah produk karena adanya unsure konformitas terhadap model yang mengiklankan produk tersebut, adanya penilaian bahwa dengan memakai atau membeli produk dengan harga yang mahal akan menimbulkan rasa percaya diri, membeli produk dengan pertimbangan harga bukan karena manfaat dan kegunaannyadan membeli karena kemasan produk yang menarik. Merk-merk atau brand-brand ternama semakin memanipulasi pikiran manusia sehingga perilaku konsumsi  tetap terus berjalan.

Jika kita perhatikan dengan seksama terdapat waktu-waktu tertentu dimana orang-orang mengalami aktivitas konsumsi dengan sangat berlebihan. Orang-orang memang sengaja menyediakan budget khusus untuk nantinya dibelanjakan dengan sangat beringas di segala jenis pertokoan. Saat-saat tertentu yang  dimaksud seperti akhir bulan Ramadhan, Awal tahun baru Islam, Natal, Imlek dan perayaan-perayaan lainnya yang bersinggungan dengan sisi keagamaan.

Misalnya saja pada akhir ramadhan, orang-orang datang berbondong-bondong ke pusat-pusat perbelanjaan ibarat laron-laron yang datang menghampiri lampu neon utnuk menghabiskan uang mereka demi membeli busana-busana atau barang-barang lainnya yang kondisinya serba baru. bisa kita lihat memang pusat-pusat perbelanjaan dipenuhi sesak oleh manusia-manusia yang dikendalikan hasrat tanpa pertimbangan rasional demi citra yang baik di hari raya. Para pemilik toko mengobral barang dagangannya yang sudah dipastian bakal laku dengan menggunakan atribut-atribut hari raya. Keluarkan semua stok barang karena melihat permintaan yang semakin membludak barangkali itu yang ada di benak para pedagang. Alhasil dalam semalam mereka bisa meraup keuntungan yang melebihi dari yang mereka dapatkan di luar hari raya tersebut. Lagi-lagi prilaku konsumtif dilanggengkan oleh kita semua. Selain itu identitas-identitas yang dilekatkan pada agama tertentu contoh semisal baju kokoh, peci, dan jilbab pun menjadi sasaran perangsang budaya konsumtif. Media memainkan peran yang sangat vital dimana mereka menampilkan sosok perempuan atau laki-laki dengan menggunakan baju-baju muslim dengan style dan merk-merk tertentu. Dan pada akhirnya orang-orang menjadi lebih memilih baju-baju atau kerudung sesuai dengan merk dan style yang ditampilkan di media.

Seperti yang dikatakan diawal pembahasan ini, aktivitas konsumsi telah memasuki semua aspek termasuk agama dengan pernak-pernik yang dilekatkan padanya yang dijadikan komoditas untuk di kelas-kelaskan berdasarkan merk-merk yang melekat pada barang tersebut agar orang-orang dengan aktivitas konsumsi tanpa pemikiran rasional menjadi tertarik untuk lagi-lagi membelinya.

Apakah ini adalah masa depan yang kita inginkan ? apakah betul modernitas dengan globalisasinya adalah sesuatu yang kita harapkan ?apakah kita dapat melangkahi sebuah globalisasi ? sebagaimana kita ketahui globalisasi telah membuat kita menjadi one dimensional man dalam istilah Herbert Marcuse, menjadi masyarakat dunia yang telah hilang batas-batas teritorialnya. Globalisasi secara sistematis membuat peredarang barang menjadi tidak terkendali.

 

*Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi FISIP UH

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s