Resensi buku “Saya berbelanja maka Saya ada”

 

Oleh

Achmad faizal

Cover Belanja3.JPG

Judul buku          : Saya Berbelanja Maka Saya Ada: Ketika Konsumsi dan Desain Menjadi Gaya Hidup Konsumeris
Penulis                 : Haryanto Seodjatmiko
Penerbit              : Jalasutra, Yogyakarta dan Bandung
Cetakan               : Pertama, November 2008
Tebal                     : 118 halaman

 

Suatu hari 3 orang tengah bercakap membahas perihal apa yang menjadi “sari kebenaran” dizamannya. Orang pertama sebut saja ia Descartes, seorang rasionalis modern berkata bahwa “Cogito Ergo Sum” (saya berfikir maka saya ada), dengan kata lain, ketika saya ragu-ragu atau berfikir maka saya dianggap ada. Orang kedua, sebut saja ia Agustinus kemudian berkata bahwa kalau dimasa saya adalah jika kau salah/keliru maka kau dianggap ada atau dengan kata lain kesalahan adalah mutlak adanya pada setiap manusia. Orang ketiga, sebut saja ia sberendet lalu berkata bahwa “Emo Ergo Sum” (saya belanja maka saya ada). Kalian dianggap ada jika berbelanja atau berkonsumsi.

Belanja kini telah menjadi aktifitas wajib bagi masyarakat modern. Melalui aktifitas belanjalah, kebutuhan hidup dapat terpenuhi baik yang primer, sekunder maupun tersier. Namun pada tahap tertentu, aktifitas belanja tersebut terkadang terjebak pada konsumerisme, sebuah keadaan dimana sang individu tidak dapat lagi meretas antara kebutuhan (what he needs) dan keinginan (what he desired).

Bila berbelanja semula menjadi “perpanjangan” manusia yang hendak mengonsumsi sesuatu, pada perkembangan berikutnya, belanja justru menjadi kegiatan mengosumsi itu sendiri. Belanja berubah menjadi kebutuhan manusia yang tak cukup diri. Disinilah letak konsumerisme dalam arti mengubah “konsumsi yang seperlunya” menjadi “konsumsi yang mengada ada”. Dalam arti ini, motivasi seseorang untuk berbelanja tidak lagi guna memenuhi kebutuhan dasariah yang ia perlukan sebagai manusia, melainkan terkait dengan hal lain, yakni identitas. (hal : 6-7)

Jadi seseorang akan merasa “pede”, “terhormat”, “gaul” jika mampu makan/minum di restoran, club, J.co, Starbucks ketimbang makan/minum di warung angkringan atau warteg, jika mengenakan pakaian bermerk internasional ; Levi’s, Uniqlo, Vans, Tom’s,  dst ketimbang mengenakan pakaian lokal atau tidak branded. Singkatnya, manusia tidak lagi hanya membeli barang-barang, melainkan merk ternama yang terkandung dalam barang tersebut.

Dasar-dasar konsumerisme

Sebelum tiba pada defenisi konsumerime, ada baiknya kita melacak apa kakar kata (etimologi) dari istilah tersebut. Konsumerisme berasal dari kata konsumsi + isme. Konsumsi dalam The Concise Oxford Dictionary berarti pemanfaatan dan penggunaan barang-barang (purchase and use of goods) ,sedangkan isme adalah paham,ideologi aliran, way of life. Jadi konsumerisme adalah cara hidup yang berlebihan dalam perihal konsumsi. Berikut saya mencoba merangkum hal-hal yang terkandung dalam konsumerime menurut buku ini ;

Pertama, Identitas diri dan manipulasi imaji (self identity & image manipulation). Robert H Imam menyebutkan bahwa pada masyarakat makmur, kebutuhan konsumsi sudah melampaui tahap bertahan hidup dan bergerak, terutama pada tingkat aktualisasi diri dan kebutuhan sosial. Sedangkan Charles Revson, pendiri Revlon pada 1932, seperti dikutip  The Jakarta Post  mengatakan bahwa, “di dalam perusahan kami membuat kosmetik, di dalam toko kami menjual harapan” (Hal: 8). Sehingga yang perlu digarisbawahi adalah harapan, ekspektasi yang ditanamkan sebagai konsep ideal menjadi manusia modern adalah salah unsur inheren di dalam konsumerisme. Defenisi diri adalah apa yang kau konsumsi.

Kedua , pengkultusan komoditas (Idolize the commodity). Steven Miles di dalam Consumerism as a way of life , berpendapat bahwa “kehidupan sehari hari di Negara maju di dominasi oleh relasi kita dengan benda-benda konsumen”. Bahkan dengan ekstrim, ia mengatakan konsumerime adalah agama pada akhir abad dua puluh ini. Bagi Miles, konsumerisme telah menjadi kultur konsumsi yang kita tidak sadari (Hal : 8-9). Sebagian manusia modern terkadang memberikan perlakuan (treatment) khusus terhadap komoditas tertentu yang dianggapnya sangat berharga terutam jika dilihat dari sisi harga dan jumlahnya yang sedikit.

Ketiga, konsumsi sebagai candu (consumption is opium). Ciri lain dari konsumerisme adalah efek candu yang diberikan oleh aktifitas belanja. Manusia modern yang telah terjangkiti konsumerisme pada akhirnya membeli barang bukan karena ia membutuhkan sebuah barang tetapi tindakan membeli itu sendiri adalah kebutuhan.

Teori-teori konsumsi

Pada buku ini, penulis pun membeberkan beberapa teori dan tokoh yang dijadikan landasan teoritis untuk menjelaskan perihal konsumerisme.

  1. Karl marx

Analisis Marx yang digunakan menjelaskan perilaku konsumsi yakni analisa marx mengenai apa yang membentuk dan menyusun kebutuhan-kebutuhan manusia dan bagaiman kebutuhan tersebut dapat bertemu di dalam aplikasi produksi (hal :20).

Komoditas yang diproduksi sebagai nilai tukar pada akhirnya akan merangsang bahkan memaksa konsumen (buruh)  untuk mengkonsumsi komoditas tersebut melalui upah yang diberikan.

2. Max weber

Kontribusi Weber pada persoalan konsumerisme yakni penjelasannya terkait kehadiran kapitalisme sebagai determinisme etika protestan (etos kerja, kerja keras, hemat, investasi). Hadirnya kapitalisme yang memproduksi komoditas dalam jumlah banyak pada akhirnya akan merangsang manusia modern untuk berkonsumsi.

3. George simmel

Disini Simmel melihat uang, dan secara khusus pertukaran sebagai pusat pengalaman modernitas. Hal ini menarik dalam arti membangkitkan kemungkinan bahwa konsumsi lebih daripada sekedar minat incidental, dan secara actual memiliki beberapa peran dalam menstrukturasi pengalaman modernitas seseorang (hal : 23).

4. Pierre bordieu

Konsep Habitus Bordieu digunakan untuk menganalisis perilaku konsumsi manusia modern. Konsumsi yang ditekankan Bordieu yang meliputii tanda, simbol, ide, dan nilai digunakan sebagai cara memisahkan satu kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya (hal : 25).

5. Mike Featherstone

Menurut Featherstone, konsumsi secara alami telah memberi identitas yang tidak melulu terbatas bagi kaum muda dan kaum kaya, melainkan secara potensial berdampak pada kehidupan seseorang. Kita dapat menjadi siapapun selama kita siap untuk mengonsumsi (hal:26).

6. Jean baudrillard

Menurut Baudrillard, masyarakat kontemporer dibentuk oleh kenyataan bahwa masa sekarang dikelilingi oleh factor konsumsi yang begitu menyolok dengan ditandai oleh multiplikasi objek, jasa, dan barang barang material (hal:27).

Beberapa ranah konsumsi

Buku ini juga menjelaskan beberapa contoh ranah konsumsi yang paling massif dijadikan objek belanja bagii masyarakat modern, diantaranya :

  1. Mengosumsi ruang dan tempat, seperti mall, swalayan, hypermarket, alfa mart.
  2. Mengosumsi teknologi, seperti handphone, mobil, motor
  3. Mengosumsi mode, lebih kearah fashion (pakaian).
  4. Mengosumsi musik, lebih kearah music pop yang menjadi komoditas.
  5. Mengosumsi olahraga, seperti sepak bola dan bola basket.

Jadi buku ini sangat tepat bagi anda sebagai salah satu referensi jika berhasrat mendalami ihwal konsumerisme.

*Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi Unhas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s