George Herbert Mead & Interaksionisme Simbolik

Oleh :

Sasti Khumaerah

george_herbert_mead

Biografi singkat George Herbert Mead

George Herbert Mead  lahir di south Hadley, Massacussets, Amerika, pada tanggal 27 februari 1863. Anak dari seorang pendeta, ayahnya bernama Hiram Mead, sedangkan ibunya bernama Elizabeth Storrs yang mengajar di Oberlin College. Ketika Mead berusia enam belas tahun, dia masuk ke fakultas teologi di Oberlin College Ohio dan mendapatkan gelar sarjananya pada tahun 1883. Setelah lulus dari Oberlin, Mead belajar di Harvard University pada tahun 1887 selama setahun, ia mengkaji tentang filsafat dan psikologi sosial.

Selama menempuh pendidikan di Harvard, Mead banyak belajar dan mendapat pengaruh dari Wiliam James tentang pragmatisme dalam filsafat di konsep diri (self), dan John Dewey juga berpengaruh pada pemikiran-pemikiran Mead dalam konsep isyarat (gesture). Mead menulis buku Min,Self, and Society yang merupakan materi-materi kuliah Mead  yang telah mempengaruhi perkembangan Sosiologi Kontemporer khususnya pembahasan tentang Interasionisme Simbolik, dan di bukukan oleh mahasiswanya yang bernama Leonard Cottreil. Ia menjadi ketua jurusan filosofi pada tahun 1930. Sayangnya Mead terlibat konflik, yang menyebabkan Mead menulis surat pengundran diri pada tahun 1931. Akhir April di tahun yang sama, beliau meninggal karena mengalami gagal jantung sehari setelah surat pengunduran dirinya ia tulis.

Teori Interaksionisme Simbolik

George Herbert Mead menyatakan bahwa komunikasi manusia berlangsung melalui pertukaran simbol serta pemaknaan simbol-simbol tersebut. Mead memandang perbuatan sebagai hal paling inti dalam teorinya. Dalam menganalisis perbuatan, Mead sangat dekat dengan pendekatan behavioris dan memusatkan perhatiannya pada stimulus dan respon. Menurut Mead sendiri ia memahami stimulus sebagai suatu peluang untuk bertindak, bukan sebagai paksaan atau mandat.

Tokoh-tokoh yang memengaruhi teori Interaksionisme Simbolik

Dipengaruhi oleh Wiliam Jemes yang mengembangkan konsep “Self” di mana menurutnya manusia  mempunyai kemampuan untuk melihat dirinya sebagai obyek dan dalam kemampuannya, manusia bisa mengembangkan sikap dan perasaan terhadap dirinya sendiri. Tokoh lain yang mempengaruhi Mead adalah John Dewey yang memusatkan perhatian pada proses penyesuaian manusia terhadap lingkungannya. Mead juga dipengaruhi oleh Max Weber tentang interaksi dan tindakan. Weber mengemukakan bahwa individu berinteraksi satu sama lain diwujudkan dengan adanya suatu tindakan maupun perilaku.

Mead mengidentifikasi empat tahap dasar yang terkait satu sama lain dalam setiap perbuatan. Keempat tahap tersebut mewakili suatu keseluruhan organik. Binatang yang lebih rendah dan manusia sama-sama bertindak, dan Mead tertarik pada kemiripan maupun pada perbedaan antara keduanya.

Tahap pertama adalah Impuls, yang melibatkan stimulus indrawi dan reaksi aktor terhadap stimulus tersebut, kebutuhan untuk berbuat sesuatu. Contohnya rasa lapar, aktor dapat mrespon secara langsung tanpa perlu berpikir. Aktor lebih mmikirkan bagaimana respon mepertimbangkan situasi.

Tahap kedua adalah Persepsi, diman aktor mencari dan bereaksi terhadap stimulus yang terkait dengan Impuls, yang dalam hal ini adalah rasa lapar dan berbagai cara ada untuk memuaskan rasa lapar tersebut. Persepsi melibatkan stimulus yang datang, timbulnya banyak persepsi dan respon aktor yang berbeda-beda dan kemudian memilah dan memilihnya.

Tahap ketiga adalah Manipulasi, setelah impuls terwujud dan objek telah dipilih atau di persepsi, di tahap selanjutnya, manipulasi objek atau mengambil tindakan sebelum merespon sesuatu.  Di mana di sini mencoba berpikir dan menguji beberapa hipotesis yang ada kemudian merespon hal itu.

Tahap terakhir yaitu Konsumasi, dalam hal ini mengambil tindakan yang akan memuaskan impuls awal. Tahap-tahap ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain, Mead melihat keempat tahap ini bersifat dialektis. Setiap tahap tersebut hadir sepanjang waktu  sampai dengan akhir perbuatan, sehingga masing-masing perbuatan saling memengaruhi. Jadi, tahap perbuatan selanjutnya bisa menyebabkan munculnya tahap sebelumnya. Sebagai contoh manipulasi makanan bisa membawa individu pada impuls rasa lapar dan persepsi bahwa seseorang lapar dan bahwa makanan tersebut tersedia untuk memuasakan rasa lapar.

Jadi, pada dasarnya teori Interaksionisme simbolik adalah sebuah teori yang dimana melihat manusia bertindak berdasarkan makna atau simbol, di mana simbol-simbol tersebut didapatkan dari interaksi dengan orang lain, serta simbol-simbol tersebut terus berkembang pada saat suatu proses interaksi sedang berlangsung.

 

*Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi UH 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s