Tentang hujan

payung-dan-hujan.jpg

oleh

Fajar Al Murakami

Saat ini siapa yang tidak menegenal pasar ?

ia bagaikan hujan, sekalipun mereka hanya mampu mendengarnya

tak pernah sekalipun melihat titik-titik air yang basah itu terjatuh dari langit,

ia bagaikan candu.

 

Di dalam mimpi mereka hanyalah sebutir cahaya;

butiran air yang berkilau dari gugusan rembulan yang bulat penuh dan

suara yang menitik terbawa oleh desau angin.

 

Kilau dari sepasang mata yang tidak pernah mereka miliki.

Tapi, tahukah engkau arti sesungguhnya sepasang mata bagi seorang penyair?

Sebetulnya tak ada,

karena tak hendak mata seorang penyair mampu melihat kecuali dengan hatinya.

 

Bagi penyair, mata hanyalah ilusi seekor binatang yang telah mati.

Binatang yang tak lagi mampu menyuarakan kebekuan pikiran.

Karena itu, bukankah percuma bila seorang penyair terlalu percaya kepada sepasang mata,

sedang realitas dunia tersusun tak lebih dari balok-balok titian nada?

 

Mereka yang menyebutnya modal, tidak perrnah menikmati kebahagiaan

kecuali dalam mimpi yang tak pernah terwujud.

Mereka mampu membeli segalanya kecuali nyawa, dan kebudayaan.

Begitulah, penyair menutup mata dan mereka mendengar deru hujan bergema.

Membasahi tubuh dan pikiran.

 

Dan sekali lagi ini bukanlah sajak seorang penyair,

ini hanyalah untaian kata yang mencoba membentuk sajak,

karena sajak dari penyair baru terlahir dari hati yang tak bernoda.

 

 

*Penulis : Mahasiswa Sosiologi UH 2015

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s