Bedah Buku “Barbie Culture” Ikon Budaya Konsumerisme (Mary F. Rogers : 2009)

503532_f8dbf904-321b-4726-9079-ddd74ac6ec67.jpg

oleh :

Yulianti Manguluang.

Barbie merupakan boneka yang pertama kali diproduksi di Jepang 1959. Pertama kali dibuat pada zaman renaisan sekitar abad ke- 15. Kehadiran Barbie dikenal dan diterima bukan hanya karena Barbie dikenal dan diterima luas tetapi karena orang-orang mengidentifikasikan diri baik sebagai fans, kolektor, desainer, maupun konsumen. Mengapa kemudian Barbie dijadikan sebagai ikon karena penulis berpikir ada nilai penting untuk memahami Barbie secara lebih mendalam.

Buku dengan focus kajian budaya popular ini, menceritakan sebuah realitas bahwa ikon Barbie –boneka plastic yang dikenal cantik, modis, elegan dan feminin- menjadi sebuah ikon yang banyak digemari, dan tanpa sadar  menjadi tolak ukur kecantikan atau kesempurnaan seorang wanita. Dewasa ini Barbie seakan memiliki arti yang sangat penting untuk menunjukkan diri mengenai siapakah diri kita sebenarnya? Sosok plastik ini mempresentasikan beragam status dalam masyarakat. Dengan gayanya yang feminine, glamour dan elegan, ikon Barbie menjadi contoh dalam gaya hidup, hal ini menjadikan Barbie sebagai ikon budaya konsumerisme. Menurut penulis ikon merupakan titik pengakuan yang diterima secara luas di dalam masyarakat. Ikon tidak hanya merepresentasikan satu dimensi saja melainkan beragam representasi.

Menawan hati, memesona, memikat, jelita, lembut, anggun, dramatic cantik dan indah, fantastis, bergaya dan menarik, gemerlapan, anggun, ekol, berseri-seri, romantic serta berkulauan selalu mewarnai iklan-iklan Mattel untuk Barbie, tidak bias disangsikan, kata-kata ini telah mewakili femininitas kelas menengah modern. Barbie telah menjadi model acuan bagi sebagian besar anak.

Barbie berpenampilan feminin dan bersikap menentang maskulin. Ketika mendapatkan penghargaan sebagai petugas polisi terbaik pun dia mengenakan gaun malam yang gemerlapan pada acara penyerahan. Penampilan Barbie juga tidak pernah terkesan androgin atau tanpa-gender. Tampilan pengemasan Barbie yang berwarna merah muda, teksturnya yang lembut dan halus, gaya fashionnya yang tepat, dan bentuknya yang ramping seolah menyatakan diri, “Feminin!”.

download-1

Rambut yang indah, kaki yang jenjang, payudara yang sempurna, dan pinggang yang ramping laksana jam-pasir bagi Beth, mahasiswi Midwest State University adalah sesuatu yang terlalu sempurna.”Kemampuannya mendefinisikan kesempurnaan terlalu menakutkan,” kata Beth. Sidney Stern dan Ted Schoenhaus (1990) pun mengatakan Barbie sebagai model acuan yang paling merusak dunia mainan. Sebab, Barbie lahir dari proses idealisasi dan melebih-lebihkan.

Stephen Kline (1993) Barbie secra sadar dibuat untuk menciptakan sebuah permainan peran imajinatif yang terpusat pada dunia perempuan. Tidak seperti bermain dengan boneka-boneka bayi Barbie terpusat pada penampilan.

Barbie sekurang-kurangnya adalah obyek yang dipenuhi citra gender. Tidak mengejutkan bahwa kebanyakan anak laki-laki menganggapnya bukan sebagai bagian dari diri mereka bahkan menolak dengan sikap kebenciaan yang amat sangat. Barbie sering kali dilaporkan sebagai sasaran kekerasan. Penyiksaan biasanya dengan pencopotan kepaala, menarik lengan, membakar habis rambutnya.

Hetero seksual dan ras dalam dunia Barbie Secara fisik telah mengajarkan rasisme. Sejak lahir, Barbie adalah boneka berkulit putih walapun kemudian telah banyak versi warna kulit padanya seperti versi Afrika, Amerika, Asia, dan Hispanik. Selain berkulit putih Barbie juga berasal dari kelas menengah, bertubuh sehat. Barbie bukanlah perempuan yang tidak mampu berbuat apa-apa. Barbie mengambil alih tanda-tanda subordinasi perempuan pada tubuh, sikap yang selalu manis, kepribadiaan yang menawan dan mengubahnya menjadi sarana menuju kesuksesan.

Pemasaran Barbie didukung oleh kebangkitan sistem ekonomi konsumsi di Amerika Utara, Jepang, Eropa, serta belahan negara lain pada tahun 1960-an. Akibat kebangkitan sistem ekonomi ini, banyak kalangan yang secara ekonomis belum produktif pun berduyun-duyun ke mal, restoran, bioskop, tempat makan siap saji, taman hiburan, butik, dan semua tempat belanja barang maupun jasa. Barbie dengan lugasnya menggaet golongan anak-anak sebagai market. Maka, Barbie telah melambangkan konsumerisasi anak-anak yaitu transformasi anak-anak menjadi konsumen dengan otonomi di diri anak-anak itu.

Sebagai boneka, Barbie tidaklah mainan semata. Ia memiliki beragam pernak-pernik dalam dunia kecilnya oleh sebab tersebut anak-anak tidak hanya membeli Barbie tapi juga harus memiliki apa yang dimilki Barbie seperti rumah Barbie, mobil-mobilan Barbie, kamar mandi Barbie, dan berbagai aksesoris yang berhubungan dengan Barbie. Dari kacamata produsen, Barbie adalah mesin uang yang luar biasa atau titik awal praktik strategi pemasaran yang menguasai pikiran anak-anak. Dibuatlah mainan “turunan” seperti rumah Barbie, perlengkapan rumah tangga Barbie, kendaraan, furniture seperti tempat tidur, lemari pakaian, kursi, meja, juga hewan peliharaan ala Barbie.

Barbie memerlukan waktu setidaknya 30 tahun untuk bisa menjadi ikon budaya seperti saat ini. Sejak kelahirannya pada 1959 hingga 1989, Barbie masih jarang dikenal orang. Reader’s Guide yang berisi indeks ratusan majalah dunia menunjukkan bahwa hingga 1979, hanya ada 5 artikel tentang Barbie. Setelah 1990, barulah Barbie menjadi sosok penting dalam budaya populer Amerika Serikat atau dunia.

Tubuh dan diri plastic identic dengan Barbie, Barbie adalah penjelmaan praktik disiplin tubuh. Barbie menjadi simbol bagaimana tubuh menolak batasan yang dahulu dipahami sebagai kodrat alam. Akibatnya tubuh pun menjadi instrumen aerobik, objek bedah plastik, eksperimen diet, dan sebongkah daging yang siap dibentuk terus menerus. Barbie melambangkan bentuk tubuh yang diidam-idamkan mayoritas perempuan remaja maupun dewasa.

Buku dapat membuka wawasan dengan  membuka mata kita atas realita bahwa Barbie telah menjadi sebuah ikon budaya konsumerisme, hasrat-hasrat fantastic dan teknologi baru pembentukan tubuh. Ia menjadi symbol bagaimana tubuh menolak batasan-batasan yang dahulu dipahami sebagai kodrat alam. Faktanya, banyak sekali manusia memaksakan diri, mengeluarkan kocek yang tak sedikit, tak peduli rasa sakit hanya demi untuk merubah bentuk tubuh dengan diet berlebihan, sedot lemak, melakukan perawatan bahkan operasi pelastik demi terlihat ideal layaknya sebuah Barbie.

Lebih dari sekedar analisis bahwa Barbie sebagai bentuk reproduksi etnisitas  dan gender dengan cara kasar dan merusak (rasisme dan seksisme), Rogers menyusun satu gambaran yang lebih luas dan menantang. Dia memperlihatkan bagaimana makna cultural Barbie begitu meluas pada masyarakat.

*Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi UH 2015

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s