MAXilian WEBER (1864-1920)

oleh :

Achmad faizal

 

…In the more than forty years since Max Webers untimely death, recognition of his stature as one of the principal founders of modern social science, in particular modern sociology, has slowly been growing. But the magnitude of his contributions has not yet been fully appreciated ; barriers to understanding of Webers thought are still presented by technical difficulties and by cultural resistance… (Talcott Parsons).
articleweber
source : http://www.economist.com
  1. SEKILAS NAPAK TILAS KEHIDUPAN MAX WEBER

Kakanda weber ternyata lahir pada tanggal 21 April 1864[1] di Efrurt, Jerman dan wafat pada tanggal 14 juni 1920 di Munich, Jerman. Beliau tumbuh besar di tengah keluarga yang tergolong kelas menengah – atas. Bapaknya – Max Weber Sr, adalah seorang ahli hukum dan penasihat kota praja, seorang anggota Dewan Kota Berlin dan wakil rakyat di DPR (Reichstag) dari Partai Liberal Nasional dan dicurigai sebagai birokrat yang suka hidup bermegah megahan.

Sementara ibunya – Helene Fallenstein adalah seorang perempuan yang shaleh (calvinisme taat) dan menjalani pola hidup yang sederhana dan disiplin. Keseharian ibu Weber adalah melayani para tokoh politik dan mendidika keenam anaknya. Sikap acuh tak acuh yang dilayangkan suaminya (ayah Weber) menyebabkan hubungan suami istri tersebut perlahan merenggang sehingga kedepannya berdampak terhadap kondisi psikologis Weber muda.

Keluarga Weber dikenal sebagai keluarga yang cerdas. Melakukan safar dari sebuah daerah ke daerah lain mendorong Weber tidak cepat puas diri dan ingin mengisi hasrat rasa ingin tahunya dengan belajar informal diluar jam sekolahnya. Weber kecil adalah anak yang lemah, sakit sakitan dan menderita penyakit meningnitis (penyakit otak) saat usia 4 tahun.

Kegemarannya melahap buku-buku sejak kecil mengantarkannya menulis sebuah karangan sejarah perdananya berjudul “Concerning the course of Germany History, with special Regard to the positions of Kaiser and Pope”, Dedicated to My Own Igsignificant ego as well as to Parent and Siblings”. Weber remaja telah aktif menulis berbagai karangan dan membaca beragam buku sehingga membuatnya memiliki kematangan berfikir dan disukai oleh banyak temannya.

Melihat perkembangan Weber remaja yang sangat cepat, ibunya berniat memasukkannya kedalam Sakramen (pesantren) untuk belajar agama – perjanjian lama (protestan), namun selama dalam Sakramen, ibunya sedikit kecewa karena tidak ada perubahan significan yang dialami oleh Weber malahan ia semakin menjauh dari agama. Semboyan Sakramen yang diterima oleh Weber adalah “Lord is the spritit, but where the Lord’s spirit is, there is also freedom”

Berikut sekilas Karir Pendidikan, Pekerjaan dan Karya- Karya kakanda Weber :

  • 1882             : Menyelesaikan gymnasium (sarjana) di Berlin
  • 1882- 1886 : Belajar di berbagai kampus seperti Heidelberg, Strassburg, Berlin dan Gottingen dengan minat hukum, sejarah, dan teologi
  • 1886- 1889 : studi doctor dan mendapat gelar PhD di universitas Berlin dengan judul Disertasi “Zur Geschicte der Handelsgesselchaften im Mittellater” (The Medieval Commercial association)
  • 1891 – 1892   : “The condition of Agrarian Workers in the East Albe Area”, sebuah penelitian untuk masalah agraria di Jerman
  • 1893               : Diangkat menjadi professor Hukum di Berlin Universitat
  • 1893 – 1897 : Sebagai konsultan hokum di kantor investigasi nasional untuk pasar     saham Jerman, aktif di beberapa ormas Kristen seperti Partai Sosial Kristen, Konferensi Penginjilan Sosial
  • 1894               : Diangkat menjadi professor Ekonomi Politik di Freiburg Universitat
  • 1897               : diangkat menjadi professor Ilmu Politik di Heidelberg Universitat. Pada tahun ini juga beliau mulai kedatangan penyakit saraf.
  • 1903               : Tumbang oleh penyakit sarafnya sehingga mengundurkan diri dari tugas mengajar dan menjadi professor kehormatan di Heidelberg
  • 1904              :   Pulih dari penyakitnya dan kembali aktif  dalam bidang keilmuan.                                  Melakukan kunjungan ke AS tuk memberi kuliah umum di St.Louis                                    Congres of Art and Knowledge ttg “Relation of the Rural Community to Other                          Branches of the social sciences”. Menulis salah satu essay penting “Die                                  Obyektivitat sozialwissenschaftlicher und sozialpolitischer Erkenntnis”
  • 1905              : menulis essay paling fenomenalnya yaitu “ Die Protestantische Ethik und  der  ‘Geist’ des Kapitalismus”
  • 1909             : mendirikan Masyarakat Sosiologi Jerman (German Sociological Society)
  • 1911              : Memulai penelitian luas dibidang  sosiologi agama terkait etika ekonomi menurut agama dunia
  • 1911 – 1913  : Menghasilkan manuskrip orisinil yang berjudul “Wirtschaft und Gesselschaft” (Economic and Society). Manuskrip ini memuat berbagai essai                         penting seperti  “ Sociology of Law”, “Sociology of Religion”, “Sociology                         of Music”, “Sociology of Economics”. Juga menghasilkan essai                                             metodologis penting “Categories of  Interpretative Sociology”
  • 1916 – 1917   : Menulis essay- essay tentang etika ekonomi dari persfektif Konfusianisme, Hinduisme, Budhisme, dan Antropolgi Filsafati.
  • 1918 – 1919   : Diangkat menjadi anggota dewan nasional. Meneruskan essay- essay terkait etika ekonomi dari perspektif agama  agama dunia.

Karya – karya utama :

  • Methodological Essays (1902)
  • The Protestant Ethic and Spirit Capitalism (1902 – 1904)
  • Economics and Society (1910 – 1914)
  • Sociology of Religion (1916)

 

10005704-p.jpg
source : http://www.quotesgram.com

2. PENGANTAR PEMIKIRAN MAX WEBER

  • Sosiologi Tafsiran “Interpretative Understanding (Verstehende)
Sociology is a science which attempts the interpretive understanding of social action in order thereby to arrive at a casual explanation of its course and effects (Weber, 1964:88)

Sosiologi Weber dapat dikata sebagai sosiologi verstehen (interpretative understanding). Bagi Weber, sosiologi harus diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang berurusan dengan sosiologi “sendiri” dengan pengertian yang bersifat tafsiran tentang tindakan sosial dengan demikian disertai pula dengan penjelasan sebab-musabab dari jalannya tindakan sosial berseta akibat-akibatnya (Giddens ; 2009).

Lebih jauh, metodologi yang digunakan Weber (hampir semua karyanya) adalah hasil perpaduan antara sejarah dan sosiologi. Baginya , nilai kausalitas (sebab akibat) dari sejarah tidak dapat dipisahkan dengan analisis sosiologi dari setiap realitas sosial. Dengan kata lain, apa yang terjadi di masa sekarang adalah hasil dari determinisme masa lalu.

Dengan ini sosiologi menurutnya paling tidak memuat 3 preposisi (Ritzer :2008) :

  • sosiologi haruslah sebuah ilmu
  • sosiologi haruslah memusatkan  perhatiannya pada kausalitas (hubungan sebab akibat)
  • sosiologi harus menggunakan pendekatan verstehen (interpretative understanding)

Selain itu, sosiologi Weber memberi penekanan atas “makna subjektif” dalam setiap tindakan sosial merupakan ciri utama sosiologinya. Baginya “makna subjektif” merupakan suatu komponen mendasar bagi perilaku manusia. Menafsirkan “makna subjektif” dengan pendekatan verstehan secara sederhana yakni menempatkan diri pribadi ke posisi orang lain. Sebagaimana yang ia katakan :

put one’s self imaginatively in the place of the actor and thus sympathetically to participate in his experiences”. (Weber, 1964:90).

Di sinilah tujuan sosiologi untuk memahami dan mencari tahu mengapa tindakan sosial mempunyai arah dan tujuan tertentu. Sebagai seorang sosiolog (humanistis)[2], harus mampu membayangkan dirinya di tempat pelaku (aktor) dan “membongkar” isi kepala si aktor sehingga mendapatkan kesepahaman. Namun menafsirkan “makna subjektif” tidak melulu dilaksanakan atas dasar “intuisionisme” (melibatkan perasaan empati, simpati) tapi bisa diuji menurut norma atau aturan konvensional metodologi ilmiah.

Selain itu, sosiologi tafsiran bagi Weber juga harus memperhatikan objek-objek  dan kejadian kejadian eksternal yang sifatnya dapat mempengaruhi perilaku individu. Fenomena atau kejadian eksternal ini misalnya faktor iklim, geografis, biologis sejauh itu dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan individu dalam bertindak.

  • Tindakan Sosial (Social Action / Socialez Handeln)

Tindakan sosial (social action) dalam pandangan weber adalah sebuah perilaku yang diorientasikan kepada perilaku orang lain (liyan) dan terhadap tindakan tersebut, pelakunya menyandang makna-makna subjektif tertentu. Secara sederhana bahwa tindakan sosial adalah tindakan yang diarahkan kepada orang lain ( individu, kelompok) yang melahirkan makna “subjektif”.

Sumbangan Weber terhadap pemikiran tentang tindakan sosial membantu memperbaiki pemahaman kita tentang watak dan kemampuan-kemampuan aktor sosial secara individual melalui berbagai tipologi tindakan dimana sang individu bertindak dengan caranya sendiri.

Weber membagi 2 tipe tindakan yakni reactive behavior dan social action. Pertama , Reactive behavior adalah tindakan individu yang memiliki “subjective meaning” dan dilakukan secara spontanitas belaka berikut tanpa berkelanjutan. Tindakan ini umum tanpa tujuan dan dilakukan begitu saja (involuntary) misal ; batuk, bersin, mengantuk, berkedip dsb.  Kedua , Social Action, adalah tindakan individu yang disengaja , hasil tanggapan atas stimulus atau respon perilaku individu lain. Menurutnya, sosiologi bermain pada ranah ini.

Kemudian tindakan sosial tersebut berkembang menjadi beberapa tipe yang mana dimensi rasionalitas inheren dalam pelbagai tindakan sosial. Menurut Weber, tindakan rasional (rational choice) adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan penuh pertimbangan. Lalu Weber membagi 4 tipe tindakan sosial ; Zwekrational, Wertrational, Affective Action, Traditional Action.

  • Zwekrational (Instrument oriented) adalah tindakan rasional yang bersifat instrumental yang diarahkan pada “pencapaian tujuan- tujuan yang secara rasional dapat diperhitungkan dan diupayakan sendiri”. Contoh : penggunaan teknologi.
  • Wertrational (Value – action orientation) adalah tindakan rasional yang berdasarkan nilai yang dilakukan untuk alasan alasan dan tujuan-tujuan yang ada kaitannya dengan nilai-nilai yang diyakini secara personal. Contoh : sedekah, menolong orang lain.
  • Affective Action adalah tindakan yang ditentukan oleh kondisi-kondisi dan orientasi emsosional si aktor. Contoh : orang jatuh cinta
  • Traditional action adalah tindakan yang didasarkan atas kebiasaan (habitus) yang telah mengakar secara turun menurun. Contoh : upacara kematian

Namun satu hal penting yang patut kita pahami adalah bentuk bentuk tindakan (sosial) yang konkret, damai, utuh  dalam realitas masyarakat (cenderung) merupakan kombinasi dari tipe tipe tersebut, atau dengan kata lain, sangat sulit mengidentifikasi tipe murni dalam realitas sosial.

Jika merujuk karya weber Economic and Society, tipologi tindakan sosial tersebut pada dasarnya berangkat dari perilaku  ekonomi masyarakat Eropa sehingga tindakan sosial individu dalam konteks tertentu, tipologi tersebut tidak berlaku.

  • Struktur Otoritas

Kunjungan Weber selama di AS serta mengkaji berbagai literatur terkait demokrasi, birokrasi, negara dan kehidupan politik amerika yang pada akhirnya membuahkan hasil berupa konsep ideal typus. Konsep ini berisi tentang dominasi sah (otoritas) – kekuasaan dan berbagai pola lahirnya dalam sebuah masyarakat.

Selain itu, latar belakang Weber sebagai politisi dan birokrat sehingga ia memfokuskan kajiannya terhadap birokrasi modern. Menurutnya , otoritas – kekuasaan dalam birokrasi dan demokrasi adalah yang paling ideal dan stabil.

Berikut tipe – tipe  ideal :

  • Otoritas legal rasional – hukum : kekuasaan yang diperoleh melalui legitimasi hokum tertulis (konstitusi). Otoritas dalam system ini mempertimbangkan kapasitas, akuntanbilitas dan kecakapan individu. Praktik otoritas semcam ini dengan mudah didapatkan didalam birokrasi modern.
  • Otoritas tradisional : kekuasaan yang diperoleh melalui legitimasi norma-norma adat, kebiasaan. Otoritas diperoleh melalui dukungan masyarakat sekitarnya karena yang bersangkutan dianggap sebagai pemelihara nilai-nilai luhur.
  • Otoritas kharismatik : kekuasaan yang diperoleh atas dasar pertimbangan karisma sang aktor. Melalui kewibawaan sang aktor, ia dapat mempengaruhi orang-orang disekitarnya untuk mengikutinya.

 

BAHAN BACAAN TAMBAHAN :

  • From Max Weber ; essays in sociology, W.R.Mills & H.H.Gerth (1946)
  • Kapitalisme dan Teori Sosiologi Modern, Anthony Giddens (2009)
  • Sosiologi Agama, Max Weber (2012)
  • Teori Sosial (dari klasik sampai postmodern), Bryan S Turner (2012)
  • Teori Sosiologi (Dari Teori Sosiologi Klasik sampai perkembangan Teori Sosial postmodern), George Ritzer & Douglas J.Goodman (2008)

 

[2]  Istilah humanistis adalah salah satu aliran sosiologi dalam penggolongan Margaret M Poloma (1979). Sosiologi weber digolongkan sebagai sosiologi humanistis yakni bagaimana bagaimana sosiologi mampu menjelaskan fenomena dengan menjadikan perilaku individu (mikro) sebagai objek kajian.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s