Sekilas tentang isi buku “orang lain adalah neraka”

 

index

14563368_1208534895864915_8369829999284079545_n

 

Oleh

Achmad faizal

I am condemned to be free…

(Being and Nothingness, Hal : 463)

 

Jean paul Sartre lahir di Paris, Prancis tanggal 21 juni 1905. Ibunya bernama Anne-Marie Schweitzer, sedangkan ayahnya bernama Jean Baptise. Ia tidak memiliki wajah yang tampan dan sejak usia yang ke empat tahun, ia mendapatkan penyakit strabismus (mata juling) sehingga hal itulah yang membuatnya sering mendapatkan olok-olokan dari teman seusianya dan menjadikannya pribadi yang “minder” dan serta “penyendiri”. Masa kecilnya, Sartre tumbuh sebagai pribadi yang terasing, terkucil dan sering menghabiskan waktunya dengan melamun dan berkhayal. Hal inilah yang menjadi cikal bakal ia merumuskan filsafatnya dikemudian hari yakni “ filsafat eksistensialisme”.

“eksistensialisme” yang berasal dari kata “eksistensi” dalam bahasa Indonesia dapat ditelaah dan difenisikan melalui dua cara. Pertama, secara harfiah yakni sesuai dengan kaidah-kaidah tata bahasa yang berlaku, dan kedua, mengacu pada salah satu bentuk gerakanpemikiran yang ada dalam filsafat. Secara harfiah, kata “eksistensi” dalam bahasa inggris adalah “existence” yang merupakan kata benda (noun) “state of existing…” dan dengan kata kerja intrasitif “exist” dengan pengertian “be real..”, berasal dari bahasa latin “existo” dan “exister”. Dalam bahasa prancis, “existo” terdiri dari “ex” dan “sisto” yang berarti to stand. Kesemuanya dalam bahasa Indonesia secara harfiah berarti “ada”, “adanya”, “hidup”,, “kehidupan”, “berdiri”, “keadaan berdiri”, “keadaan mengada”, atau “berada”. Sehingga jika diterjemahkan secara istilah plus imbuhan –isme , eksistensialisme berarti suatu aliran, ajaran, atau pemahaman mengenai “ada”, “hidup”, “kehidupan” atau “berada”.

Tak dapat dapat dipungkiri terdapat cukup banyak tokoh besar dalam filsafat eksistensialisme, sebut saja Soren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, Martin Heidegger, Karl Jasper, Franz Kafka, Gabriel Marcel, Fyodor Dostoyevsky, Albert Camus dan Jean Paul Sartre. Namun secara garis besar, filsafat eksistensialisme terbagi dalam dua arus pemikiran yakni eksistensialisme yang bercorak “theistic” yang dipelopori oleh Soren Kierkegaard dan kawan kawan serta eksistensialisme yang bercorak “atheistic” dimana Nietzsche menjadi perintisnya.

Sartre berangkat dari sebuah dalil “eksistensi mendahului esensi” dimana segala hal barulah dapat dimaknai ketika kesemua hal tersebut “eksis” atau “ada” terlebih dahulu. “eksistensi” yang dimaksudkan Sartre dan filsafat pada umumnya , memenuhi syarat dimensi ruang dan waktu.  Sederhanya adalah “eksistensi atau keberadaan” manusia adalah yang utama dan diatas segala – galanya. Dari pemahaman diatas, berikut lahirlah beberapa konsep turunan seperti “kebebasan”, “pilihan bebas”, “absurditas”, etre en soi-etre pour soi, “kesadaran reflektif-nonreflektif”, mauvaise foi , objektivasi (other is hell), serta “faktisitas”.

Buku ini hadir sebagai jawaban atas anggapan bahwa filsafat eksistensialisme kini hampir terlupakan oleh para filsuf dan kaum akaedmisi kontemporer. Perkembangan teori-teori sejak marxisme, neomarxisme, bahkan posmarxisme sama sekali tak menyinggung konsep interaksi sosial filsafat eksistensialisme. Selain itu, buku ini juga berupaya memamparkan bagaimana “perselingkuhan” antara disiplin sosiologi dengan filsafat eksistensialisme tersebut terjadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s