Hibriditas budaya pop : berdandan barat, berhati timur

 

celana2.jpg

Oleh

Achmad faizal*

Dalam beberapa momen, tatkala anda mengendarai motor/mobil di jalan raya, terutama pria sering-sering mendapati seorang wanita yang tatkala digonceng, selalu duduk dalam posisi memancing hasrat lelaki yang normal,  terlebih ketika di gonceng dengan pacarnya (yang belum tentu jodohnya). Entah secara fisiologis tubuh wanita memang harus begitu tatkala duduk, pant*tnya itu agak menonjol kebelakang ataukah si dia nya aja yang sengaja.  Dan saya selalunya (antara merugi dan rejeki) menjumpai tipe wanita seperti itu di jalan dan hampir 100% boleh dikata cantik (dari belakang).

Umumnya wanita dengan tipe tersebut di atas selalu mengenakan pakaian yang bagi saya cukup ketat, sehingga tak dapat di elakkan bahwa terkadang pakaian mereka berupa celana dalam (motif kembang) plus belahan tengah hitam kurang lebih 5 cm (sebut saja ia pant*t) pun terlihat. Namun keanehan menggerutu pada saya tatkala si wanita itu nampak sadar dan seketika menormalkan kembali posisi celana sembari menahan bagian bawah baju yang tertarik naik agar tidak dinikmati secara gratis oleh pengendara yang ada dibelakangnya.

Hal lain yang acapkali dijumpai dan menurut saya awkward adalah tipe wanita berhijab kontemporer (kekinian bahasa gaulnya) di perkotaan Indonesia. Anda dapat menyaksikan tatkala mereka berbusana, bagian bawah tubuh menggunakan celana jeans (ketat) , bagian atas badan di balut oleh baju kaos, kemeja atau serupanya yang juga cukup ketat, serta penggunaan hijab mainstream (adami seperti dadar gulung, persegi ketupat, pashmina , khamar, monokoromo dst).

Tak ada sedikitpun niat hendak mengucilkan atau mencibir kaum wanita berhijab, terlebih menjustifikasi bahwa itu haram, sunnah, bid’ah, dst. Ketahuilah itu bukan domain saya melainkan domain kajian para ustadz (karbitan). Satu hal lagi, para remaja laki-laki pun tak luput dari berbusana ala demikian. Misalnya saja, perpaduan antara celana jeans, baju koko, songkok/peci (bergambar volcom), namun yang membedakan dengan kaum hawa adalah frekuensi pria berpakaian seolah-olah “islami” sangat-lah minim dan mudah di jumpai tatkala hari jum’at dan bulan ramadhan tiba.

Hibriditas kebudayaan

Syahdan, apa yang membuatnya aneh bagi saya ?, secara apriori boleh saya katakan bahwa mayoritas mode berbusana kaum remaja – bahkan orang dewasa kekinian (mainstream) adalah hasil perpaduan dua – lebih unsur budaya atau meminjam istilah Pajenengngan Homi K Bhaba (pemikir poskolonialism)  apa yang disebut dengan hibdriditas kebudayaan. Hibriditas kebudayaan yang saya maksud adalah pencampuran beberapa unsur kebudayaan yang melahirkan kebudayaan baru atau sebutan lain dari sinkretisme, akulturasi ataupun asimilasi kebudayaan.

Tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan remaja kota hari ini sedang dilanda hibriditas kebudayaan. Persilangan budaya antara yang datang dari belahan bumi barat dan yang datang dari belahan bumi timur kini tidak dapat dinafikkan lagi. Era globalisasi serta pesatnya kemajuan teknologi informasi mengharuskan hal itu terjadi. Sehingga batas-batas sebuah Negara-bangsa hanya sekedar persoalan geografis saja, tetapi diluar itu semuanya saling terkoneksi satu sama lain.

Dunia barat yang (kebetulan) lebih maju dari rata-rata negara di Asia wa bil khusus Indonesia telah meracuni pola pikir remaja (labil) di Indonesia bahwa segala apa yang di produksi oleh barat maka itulah yang terbaik, salah satunya adalah mode busana yang di kenakan remaja hari ini – khususnya di perkotaan. Sementara dunia timur yang juga (kebetulan) sedikit lebih baik secara moralitas dari negara – negara liberal telah mendikte pola pikir – tidak hanya remaja bahkan orang dewasa sekalipun berfikir bahwa segala apa yang datang dari timur maka itulah yang “islami” atau bernilai sunnah.

Dilematis dalam bergaya hidup

Kembali kepada contoh kasus yang telah saya sebutkan diawal tulisan ini bahwasanya apa yang dilakukan oleh remaja wanita (berhijab) itu adalah hasil dari hibriditas kebudayaan. Mode busana yang dikenakan boleh saja ala barat (sexy, ketat, minimalis) namun dalam lubuk hati mereka masih ada (sedikit) nilai-nilai ke-timuran berupa budaya malu (siri’) yang mana itu menjadi bahan pertimbangan, alat kontrol terhadap perilaku berbusana mereka.

Setengah hati ingin hidup dan tampil berbusana trendy, kece dan bebas menampilkan lekukan tubuhnya, kemolekan pant*tnya, serta belahan dada (yang belum tentu juga besar) ala gadis barat atau yang saban hari sempat geger dengan istilah wanita jilb*bs, di lain sisi juga mereka dihantui dengan norma-norma agama (islam) yang sejak dini ditanamkan dan ancaman api neraka, katanya.

Contoh kasus lain yang jamak terjadi di kalangan remaja kekinian adalah pacaran islami atau pacaran sehat, katanya. Yaah istilah “pacaran” yang telah diakui berasal dari dunia barat ini kemudian digandengkan dengan istilah “islami” sehingga lahirlah istilah “pacaran islami”. Mungkin saja bagi mereka “pacaran islami” adalah ketika ingin berciuman, ucapkan basmalah dahulu agar berkah, atau ketika telah selesai ML (having sex), mengucapkan istigfar, dst. Alih – alih ingin memadu kasih bernafas islami, yang hadir malah memadu hati berbalut nafsu birahi.

Sederhanya inilah yang dinamakan berdandan ala barat namun hati tetap timur

*Penulis merupakan Ketua Umum Kemasos periode 2016/17

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s