Memaknai 66 Tahun Kemerdekaan RI

oleh :

Muhammad Taufiq

Enam puluh enam tahun sudah Indonesia melewati kemerdekaannya dari penindasan penjajah. Jika kita melihat sejarah, kurang lebih selama tiga setengah abad atau Tiga ratus lima puluh tahun atau Empat ribu dua ratus bulan atau Enam belas ribu delapan ratus minggu atau Seratus tujuh belas ribu enam ratus hariatau Dua juta delapan ratus dua puluh dua ribu empat ratus jam atauSeratus enam puluh sembilan juta tiga ratus empat puluh empat ribu menit bangsa ini dalam genggaman penjajah. Krisis sosial yang dialami oleh penduduk pribumi menggerakkan keinginan untuk merdeka. Ya merdeka, merdeka dari segala bentuk penindasan dan eksploitasi penduduk pribumi. Satu-satunya cara adalah perlawanan, maka muncullah tokoh-tokoh yang memprakarsai keinginan untuk merdeka.

 
Enam puluh enam tahun yang lalu Soekarno yang akrab dipanggil bung karno, membacakan proklamasi berdirinya negara merdeka bernama Republik Indonesia. Memperoleh kemerdekaan tentunya tidaklah semudah membacakan teks proklamasi seperti yang beliau lakukan. Butuh Perjuangan dan Kerja keras serta Strategi yang rumit untuk membawa negara ini sebagai negara yang merdeka. Setelah menyatakan status kemerdekaannya pun masih mengalami gejolak pengakuan oleh negara lain, bahwa Indonesia adalah negara yang Merdeka.

 

Enam puluh enam kali sudah kita memperingati kemerdekaan Indonesia. Dengan euforia kemerdekaan, Bendera dikibarkan, segala macam pesta rakyat diselenggarakan sampai pada upacara Kemerdekaan. Akan tetapi diluar dari hal itu muncul pertanyaan, “apakah kemerdekaan itu?”. Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) sendiri mendefenisikan kemerdekaan sebagai keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dsb). Jika dilihat dalam kondisi kontemporer, kemerdekaan itu sendiri selalu dikaitkan dengan pesta atau perayaan dan lemah pada pemaknaannya. Upacara besar dan mewah diadakan di berbagai daerah dan berpusat di Ibukota menghabiskan anggaran negara yang tidak sedikit. Ironisnya, Negara sibuk mengeluarkan anggaran untuk mempersiapkan kemerdekaan sementara itu, dilain pihak tidak sedikit rakyat yang belum merasakan kemerdekaan. Kemiskinan, Ketidak adilan hukum, kesenjangan antra si kaya dan si miskin, pengangguran, KKN dan krisis politik masih menghantui bangsa ini. Ditambah lagi ketidak jelasan nasib saudara kita yang ada di garis batas negara, pengusaha lokal yang terancam gulung tikar karena tidak sanggup besaing dalam pasar bebas, Pemerataan pembangunan di kawasan Indonesia bagian timur dan sebagainya.

Enam puluh enam tahun Kemerdekaan bangsa ini mengingatkan kita pada satu kalimat dari pidato Bung Karno “Tugasku mudah hanya mengusir penjajah, Tugas kalian berat karena kalian akan melawan bangsa kalian sendiri”. Kalimat itu memberi makna bahwa orang kita terdahulu telah memerdekakan kita dari tindasan penjajah, dan sekarang kita perlu merdeka dari penindasan yang terjadi di Internal negara kita. dan perlu di garis bawahi bahwa merdeka melawan bangsa kita sendiri lebih berat. Itulah tantangan kita sebagai generasi saat ini. “Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “ (soekarno).

Enam puluh enam tahun kemerdekaan Indonesia adalah lembaran baru bagi kita untuk “me-merdeka-kan Kemerdekaan Indonesia”, maka kalimat “merdeka atau mati” seharusnya kembali tertanam dalam bara semangat nasionalisme.Seperti Kalimat Bung tomo, “Perjuangan Belum Berakhir!!”
*Penulis adalah Anggota Kemasos
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s