Falsafah Hidup : Simbolisme Keteraturan Sosial

oleh :

Syahrir Ramadhan*

Dalam literatur sosiologi (Steward, 1978) dikemukakan bahwa ada dua atribut sikap kemasyarakatan yang amat mempengaruhi pertumbuhan masyarakat yaitu historitas atau kebanggan sejarah dan fitalitas yaitu kemampuan untuk tetap bertahan hidup. Masyarakat yang menyikapi kedua atribut tersebut secara positif akan mencapai kemajuan lebih daripada masyarakat lain yang kurang atau tidak memiliki respon terhadap hal tersebut.

Sejarah telah menghantarkan kita pada suatu era “modern” dimana masyarakat yang mapan hanyalah masyarakat yang mempunyai pikiran, sikap, dan prilaku modern dimana budaya barat sebagai standarisasi mutlak peradaban dunia. Implikasinya adalah Negara-negara berkembang atau kurang maju berlomba-lomba untuk melakukan perubahan dan melakukan modernisasi dalam seluruh aspek kehidupan mereka, dengan mengadopsi kebudayaan dari barat. Sadar atau tidak sadar ini merupakan sebuah hegemoni barat yang berusaha mencekoki pikiran kita sebagai upaya perluasan atau penyebaran kebudayaan dimana liberalisasi menjadi ciri utama kebudayaan tersebut.

Jika pada masa Orde Baru bangsa Indonesia mengenal istilah “Pancasila” sesudah Bung Karno memperkenalkannya pada suatu rapat pada tanggal 1 Juni 1945 di Jakarta dan kemudian diterima sebagai falsafah hidup bangsa dan landasan berdirinya Negara R.I. Kini di zaman yang serba modern bangsa Indonesia diperhadapkan dengan benturan peradaban yang mengakibatkan negeri ini mengalami krisis identitas. Anak bangsa kemudian mempertanyakan pancasila sebagai falsafah hidup bangsa, dimana sosial dan agama cultural sebagai titik pertemuannya.

Bangsa ini kini berjalan tanpa falsafah hidup yang jelas, ataukah ini merupakan bentuk dari pluralitas masyarakat kita ? julukan bagi bangsa Indonesia yang masyarakatnya ramah tamah, santun dan dijiwai oleh semangat gotong royong yang tinggi kini sayup terdengar. Terlintas dibenak kita jika Indonesia pernah dikenal sebagai negeri yang damai, orang-orang saling menghormati satu sama lain, bahu membahu dalam menyelesaikan masalah tentunya didasari oleh sebuah semangat yang dapat menyatukan mereka, entah semangat apa itu! Ilustrasi tersebut dapat membawa kita untuk menelusuri dan mempelajari sejarah tanah air, paling tidak kita bisa menemukan kearifan lokal yang pernah melekat dan tumbuh subur di Negeri ini.

Okelah, bahwa sejarah hari ini tak terlepas dari tafsir kekuasaan yang mana mereka yang berkuasa terus saja mereproduksi sejarah untuk kepentingan kekuasaannya. Namun di lorong-lorong kecil, di dusun-dusun penduduk, ataupun tulisan-tulisan tentang sejarah dikertas-kertas yang hampir usang, serta diskusi tentang kejayaan nenek moyang tak pernah berhenti, dan terus dijaga. Misalnya saja falsafah siri na pacce (budaya malu) yang dianut oleh masyarakat Bugis Makassar yang sangat menjunjung tinggi kehormatan , sampai sekarang masih melekat. Atau didaerah tetangga Makassar tapatnya pulau Buton. Sejak abad ke- 14 M telah ada sebuah falsafah hidup bermasyarakat yang menjadi dasar hukum negara walaupun masih dalam bentuk sederhana yang disebut Sara Budiman yang kemudian dikenal dengan “Bhinci Bhinciki Kuli” (cubit mencubit kulit) yang dikemas dalam tiga kata, sangat sederhana namun sarat dengan makna mengandung pengertian mendasar dan universal yaitu setiap orang tanpa kecuali bila mencubit kulitnya masing-masing pasti akan merasa sakit. Makanya sebelum mencubit orang lain, cubit dulu diri sendiri karena apa yang kita rasakan ketika mencubit tak jauh beda dengan apa yang dirasakan oleh orang lain. Yang ditekankan dalam falsafah tersebut adalah kejujuran hati nurani dalam mengekspresikan rasa, sebab konsep rasa itulah yang menjadi akar persamaan manusia yang menjadi satu dengan sesamanya yang mana kejujuran dan kedalaman hati nurani merupakan kunci penentu yang menggerakan akal budi manusia.

Setiap manusia mempunyai rasa dan perasaan yang menjadi hak-hak asasinya yang hakiki yang wajib dipertahankannya dan dihormati serta dijunjung tinggi. Oleh karena itu seharusnya setiap orang berkewajiban untuk menghormati serta menjunjung tinggi hak-hak asasi orang lain. Penghormatan terhadap orang lain dan kejujuran sangat ditekankan , analoginya sangat sederhana orang yang tidak jujur terhadap dirinya cenderung berpotensi untuk tidak jujur terhadap orang lain, karena kejujuran hati nurani untuk mengakui kesamaan rasa kemanusiaan sangat berpengaruh pada jiwa dan akal budi yang mendorong prilaku dan menggerakkan seseorang. Bhinci Bhinciki Kuli berperan sebagai etika sosial dan alat kontrol bagi masyarakat sehingga mampu merekat masyarakat yangmajemuk menjadi masyarakat kehesif. Falsafah ini sangat dihayati sehingga mampu mewarnai prilaku masyarakatnya dan mampu bertahan selama 6 abad sejarahnya.

Secara Sosiologis kepercayaan merupakan salah satu bagian yang mampu mengintegralkan suatu komunitas atau masyarakat. katakanlah bagian dari kepercayaan itu adalah sebuah falsafah yang kemudian dianut oleh sebuah massyareakat dimana didalamnya terdapat nilai dan norma yang kemudian mengiukat anggotanya, dan kemudian menuntun anggotanya dalam bersikap dan berprilaku.

Sejarah diatas hanya sebagian kecil dari kearifan lokal yang ada di negeri ini, yang ternyata menjangkau lingkup universal yang bisa dipraktekan tanpa mengenal perbedaan agama, warna kulit, jenis rambut, ras, asal keturunan, kepercayaan, bahkan ideologi apapun dimanapun didunia ini.

Pertanyaanya kemudian, dalam kondisi sosial saat ini dimana pelanggaran serta pelecehan terhadap hak-hak asasi manusia terjadi dimana-mana mulai dari kasus Aceh, Ambon, Poso, Timur-Timur dan masih banyak lainnya itu sangat berbeda dengan kondisi masa lalu yang damai yang sangat menjunjung tinggi kehormatan dan hak-hak asasi manusia.

Adakah masyarakat yang hidup saling merasa takut antara sesama anggota masyarakat (takut terhadap perasaan halusnya, hak asasi serta kehormatan bersama), saling merasa memelihara, saling merasa menyayangi, dan saling merasa menghormati antara sesama anggota masyarakat sehingga yang lebih tua atau lebih tinggi pangkatnya dari kita dihormati, yang sama dengan kita baik sesama umur ataupun pangkat dipelihara, serta yang lebih muda umur atau pangkatnya dari kita, disayangi. Yang terjadi justru milik bersama dialihkan menjadi milik pribadi seseorang, terjadi pelecehan terhadap hak-hak orang lain, pelanggaran terhadap norma dan ketentuan yang berlaku marak terjadi, amanah yang dipercayakan oleh orang lain selalu dikhianati, keangkuhan dan kejahatan merajai, dan menipu masyarakat sekitar untuk kepentingan pribadi.

Apa yang salah dengan sekarang atau apa yang salah dengan sejarah masa lalu, ataukah kita sudah tidak jujur dengan diri kita sendiri.

Banggakah kita dengan sejarah tanah air, mampukah sejarah itu tetap bertahan dalam dunia global sekarang ini. Yang jelas bangsa yang besar dan maju hanyalah bangsa yang bangga dengan sejarahnya dan mampu bertahan hidup dalam situasi apapun.

 

*Alumni Sosiologi FISIP Unhas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s